Showing posts with label Narasi. Show all posts
Showing posts with label Narasi. Show all posts

Friday, February 19, 2010

Charger Itu Bernama Pak Maman

Hati sedang gundah. Ada permasalahan penting yang sedang menghimpit. Menemani perjalanan pergi ke Jember, bahkan hingga ketika pulang.

Dengan menggunakan Mutiara Malam, otak berputar keras, mencari solusi, mencari jalan keluar, mengkonsep strategi. Tiada terasa kereta sudah berangsur melintasi Stasiun Probolinggo.

Rasa letih seharian, letih badan, letih pikiran, perlahan mengantarkanku ke alam lain. Sebuah alam di mana frekuensi otak sudah meninggalkan status beta. Hingga tiba-tiba aku dikagetkan oleh hiruk pikuk orang melintas melewati kursi tempat aku duduk.

Aku terbangun, refleks kuraih tas punggung yang senantiasa menemaniku ke mana-mana. Aku pun turut melenggang menuju pintu keluar. Hmmmm rupanya sudah sampai stasiun Wonokromo. Begitu aku turun dari kereta, aku masih termangu. Masih bingung, mengapa aku ikut turun di stasiun ini. Padahal rencanaku ingin turun di Stasiun Gubeng.

Kebingungan yang belum mendapatkan jawaban, ketika kereta sudah mulai berlalu meninggalkan Stasiun Wonokromo. Alhasil aku pun hanya bisa menuju pintu keluar, sambil otak ini mereload menuju ke status normal. Baru ketika langkah kaki melaju beberapa meter, otak sudah mulai dapat kembali bekerja dengan normal. Baru sadar bahwa waktu Subuh sudah berlalu. Saatnya untuk sholat Shubuh.

Kuayunkan kaki menuju mushola yang letaknya dapat aku ketahui setelah sempat bertanya ke penjaga kios. Dari arah yang ditunjukkan, tampak terlihat papan penunjuk yang menjelaskan bahwa bangunan itu memang benar-benar sebuah musholla.

Ketika melintas menuju lokasi itu, baru tersadar bahwa gerimis sedang berlangsung. Karena dari tempat aku turun dari kereta hingga musholla berada, terdapat area yang tidak memiliki atap.

Selesai sholat Subuh, sempat berdiri termangu di luar musholla sambil memandang ke luar.air yang tercurah perlahan membasahi bumi. Saat itulah seseorang yang ketika sholat Subuh sempat dalam satu jamaah menyapaku. Kami bersalaman. Ternyata namanya adalah pak Maman. Seorang yang ketika memperkenalkan diri, membuatku tahu bahwa dia sedang ditimpa kesusahan.

Akhirnya aku dan Pak Maman memutuskan untuk duduk bersama bersandar di dinding Musholla. Mata kami sama-sama memandang ke luar. Air hujan masih bergantian satu-satu membasahi bumi. Pak Maman pun mulai bercerita.

Sudah 10 hari berada di Surabaya. Meninggalkan pekerjaan sehari-harinya sebagai Guru Agama di sebuah Sekolah Dasar di Cilacap. Cilacap adalah sebuah kota di Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan Jawa Barat.

Pak Maman harus berada di Surabaya dalam rangka mencari anaknya yang telah 3 bulan meninggalkan rumah. Dari kerabatnya, dia mendapatkan informasi bahwa anaknya sedang berada di Bungurasih. Kerabatnya tersebut sempat mengajak si anak pulang, namun sayang upayanya tidak berhasil.

Berbagai pelosok tempat sudah didatangi Pak Maman. Mulai dari pondok pesantren, pasar, mall, hingga Dolly. Ya benar, pak Maman sampai harus blusukan ke Dolly, untuk mencari anaknya tersebut. Dalam proses pencarian, pak Maman juga sudah sempat mengunjungi JTV. Sebuah stasiun swasta yang harus dibayar 150rb untuk sekedar melaporkan berita kehilangan anak. Alasan dari JTV adalah uang tersebut sebagai biaya operasional penyebaran berita. Hmmm, baru tahu kalau ingin mengabarkan berita kehilangan harus mengeluarkan uang hingga segitu. Atau hal ini hanya berlaku di JTV ??? Entahlah.

Dalam proses pencarian itu pula, pak Maman masih harus mengalami kecurian dompetnya. KTP, SIM, dan uang sakunya ludes digondol oleh si Maling. Surat keterangan dari Kantor Polisi tertanggal 16 Februari 2010 yang menegaskan kejadian tersebut. Untung saja, dia masih sempat membawa KTP lama yang sudah tidak berlaku dalam tasnya, sehingga dapat digunakan untuk melaporkan kejadian itu ke Kantor Polisi. Dengan berbekal uang yang tersisa di saku, pak Maman terus melanjutkan upayanya. Namun tentu saja kurang untuk memenuhi kebutuhan hidup di Surabaya.

Akhirnya untuk dapat terus menjalankan misinya, pak Maman harus menjual HPnya yang ternyata hanya dihargai tidak sampai 100rb saja. Hingga ketika bertemu denganku di Musholla itu, uang yang masih ada ditangannya tersisa 3rb saja. Dengan uang segitu, apa yang bisa dilakukan di Surabaya. Boro-boro untuk mencari anaknya, uang segitu hanya cukup untuk naik angkot sekali jalan.

Sempat aku tawarkan untuk aku antar ke Suara Surabaya, sebuah radio yang cukup melekat di telinga masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Namun tawaran itu ditolak secara halus oleh pak Maman. Pak Maman lebih memilih untuk pulang saja ke Cilacap, memikirkan strategi baru. Karena sejak HPnya dijual, Pak Maman sudah tidak bisa melakukan komunikasi lagi dengan keluarganya di Cilacap.

Akhirnya aku temani dia menuju Stasiun Bungurasih. Selama dalam perjalanan itulah dia banyak bercerita macam-macam. Berbagai cerita yang ketika masuk ke telingaku, langsung terkonversi sebuah ajakan untuk terus yakin pada kebesaran Allah. Terus menjaga agar selalu yakin, bahwa Allah selalu ada disisi kita untuk menyiapkan berbagai rencana-Nya sebagai jalan keluar dari berbagai permasalahan kita.

Secara kebetulan, suara D'Masif yang mengalun dari speaker bis dengan tepat mewarnai suasana cerita tersebut.

Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugerah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik

Tak ada manusia
Yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali
Segala yang telah terjadi

Tuhan pasti kan menunjukkan
Kebesaran dan kuasanya
Bagi hambanya yang sabar
Dan tak kenal putus asa

Sebuah pernyataan yang masih aku ingat hingga sekarang dari pak Maman adalah "Bisa bertemu dengan mas Salim ini adalah sebuah rahasia Ghaib yang tidak bisa disangka-sangka".

Benar pak, saya bisa bertemu dengan pak Maman juga adalah rahasia Allah. Allah telah menunjukkan di mana saya harus men-charge semangat kembali. Membuat saya untuk tetap positif thinking terhadap segala apa yang terjadi pada kita. Sikap tawakkal yang luar biasa pak Maman itu, telah mampu memberi semangat baru untuk terus menatap kedepan dengan keyakinan 100%. Tanpa ragu, bahwa Allah selalu hadir lebih dekat dari urat nadi kita.

Saturday, March 14, 2009

Fogging Bonus Sticker + Kaos !!!

Musim hujan, musim demam berdarah. Itu bisa jadi sudah menjadi hal yang biasa. Biasanya bila sudah demam berdarah mulai menjangkit, maka yang sering kita temukan di mana-mana adalah acara FOGGING (nyemprot asap ke rumah-rumah). Walau entah apa cara fogging ini sudah benar-benar terbukti tokcer atau hanya sekedar gagah-gagahan aja bagi petugas penyemprot yang mungkin waktu kecilnya jarang main tembak-tembakan.

Nah, musim hujan kali ini, rupanya juga menjadi musim fogging plus-plus. Plus tempet-tempel sticker di rumah-rumah yang disemprot. Plus bagi-bagi kaos. Karena sekarang memang sedang musim obral janji. Musim kampanye. Musim calon legislatif cari muka. Musim calon legislatif cari dukungan.

Di rumah mertua, ada salah satu caleg dari partai berlambang dua bulan sabit mengapit padi. Mengiringi petugas yang nyemprot-nyemprot sambil pamer gigi. Senyum sana senyum sini. Sapa sana sapa sini. Yang mungkin orang itu baru pertama kali berkunjung ke kampung ini. Bisa jadi jalan keluar dari gang-gang di kampung mertua saya saja mungkin tidak tahu.

Begitu pula dengan di rumah baru saya yang sedang masang pagar. Ada ibu-ibu berdandan secantik mungkin mengiringi para penyemprot itu. Dia berasal dari partai berlambang garuda yang iklannya banyak menghiasi tv swasta di negeri ini.

Nah, untuk calon yang ini saya sempatkan untuk berbincang-bincang, sekaligus ngetest. Seperti apa sih visi misinya dalam membangun bangsa ini.

Salim (S) : Bu, ibu dari parti G******* ya ?
Caleg (C) : Oh ya bener mas.
S : Bu kok nyemprot-nyemprot segala sih bu, udah gitu bonus sticker lagi ?
C : Kita memang berusaha care dengan kesehatan masyarakat mas.
S : Wah, berarti ibu bisa diharapkan dong untuk memajukan kesehatan masyarakat, misalnya dengan mengupayakan pengobatan gratis.
C : Sudah tentu mas, kesehatan sudah menjadi salah satu prioritas program kami.
S : Tapi bu, kembali ke masalah semprot-semprot nih, kok baru sekarang bu nyemprotnya. Buktinya saya baru ketemu ibu sekarang di sini.
C : Lho mas, jangan salah mas. Kita sudah lama lho punya program semprot-semprot ini. Cuma memang dalam formil yang berbeda.
S : Apa ini juga menjadi salah satu program berkala dari partai-nya ibu ?
C : Bisa jadi seperti itu, tapi ya nggak cuman fogging aja lho. Masih banyak yang lainnya.
S : Semisal ibu nggak terpilih, atau partainya ibu nggak menang, kira-kira apa masih tetap akan terus berjuang untuk memajukan kesehatan rakyat ?
C : Mudah-mudahan mas, mohon dukungannya.
S : Mohon dukungan untuk apa Bu ?
C : Kalau kita yang menang, kan makin mudah tho mas merealisasikan apa yang kita cita-citakan. Jadi jangan lupa ya ... ingat-ingat nanti di pemilu contreng nomor saya.
S : Saya doakan menang deh bu. Tapi untuk milih, nggak janji ya Bu ....
S : Oh ya bu, tolong rumah saya jangan ditempeli apa-apa ya Bu. Tapi kalo kaosnya saya mau.
C : Gak papa mas, nggak maksa kok. Yang mau ditempeli sticker ya monggo. Yang nggak mau ya nggak papa. Ini mas kaosnya.
S : Ok Bu, makasih.

Baru sempat memegang kaos beberapa saat. Tiba-tiba dari belakang ada salah satu tetangga yang masih belum kebagian kaos, meminta pada caleg itu. Sayangnya rupanya stok kaos sudah habis. Jadi ya terpaksa kaos yang baru saja dalam genggaman, saya relakan untuk tetangga itu.

Thursday, October 09, 2008

Hujan Sebentar, Lampu pun Padam

Surabaya, 08 Oktober 2008, sore hari. Langit tampak mendung. Dengan diwarnai desiran angin yang agak kencang, suasana sore itu terasa dingin kurang bersahabat.

Magrib pun berlalu, hujan mulai turun rintik-rintik. Tidak deras, namun sudah cukup untuk membuat bumi basah dengan aroma tanah yang khas tercium menusuk hidung.

Tiba-tiba, petttt. Lampu mati. Tak berapa lama, nyala lagi, lalu mati lagi.

Mencoba berkeliling, ternyata suasana mati lampu juga melanda traffict light. Mobil-mobil saling berlomba untuk mendapatkan jalan. Perempatan-perempatan menjadi ramai tidak teratur. Tak nampak polisi yang mencoba untuk melerai dan menata arus lalu lintas.

Entah apa yang terjadi. Hujan pertama di Surabaya tahun ini, sudah harus diwarnai dengan bergelap-gelapan dengan diterangi api dari lilin yang berlenggak-lenggok tertiup angin yang entah berasal dari mana.

Untung saja tidak terlalu lama lampu mati ini. Cukup tidak sampai 1 jam saja. Api lilin pun padam dengan sendirinya ketika kipas angin berputar. Sebagai pertanda listrik sudah hidup kembali.


Sunday, September 28, 2008

Komoditas Uang Kertas Baru

Menjelang lebaran seperti ini, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, selalu saja ada hal menarik yang seakan sudah menjadi sebuah kelaziman. Jasa penukaran uang kertas baru. Uang kertas yang masih nyuuuusss, gressss. Para penawar jasa tersebut bergerombol di tepi-tepi jalan sambil mengibas-ngibaskan uang barunya, berharap ada calon pembeli yang bersedia menukarkan uang.

Di Surabaya sendiri, mereka banyak ditemukan di sekitar Bank Indonesia, depan Kantor Pos Besar Surabaya. Alias di seputar tugu pahlawan. Namun akhir-akhir ini, mereka banyak juga yang bergeser ke beberapa jalan besar, seperti Raya Darmo.

Menariknya, tawaran jasa penukaran uang itu, makin mendekati hari H, nilainya akan semakin mahal. Apabila masih H-10, maka tarif yang dikenakan adalah 5 ribu untuk penukaran uang baru senilai 100rb. Bahkan untuk nominal besar seperti pecahan 20rb-an, untuk 1jt (50 lembar) hanya dikenai tarif jasa senilai 10rb. Pecahan yang paling laku adalah pecahan 1000-an dan 5000-an.

Untuk yang pecahan 1000-an, kebanyakan ditawarkan dalam paket 100rb (100 lembar). Sementara untuk pecahan 5000-an ditawarkan dalam paket 100rb (20 lembar) dan 500rb (100 lembar).

Pada H-3 seperti sekarang ini, tarif yang dikenakan untuk setiap penukaran 100rb, mencapai 30rb. Sehingga untuk menukarkan uang 1000an sebanyak 100 lembar dibutuhkan dana sebesar 130rb. Hmmmm...ladang bisnis yang menarik, mengingat seminggu yang lalu, saya menukarkan uang baru dari bank sebanyak 5jt tanpa dikenai biaya sepeser pun. Bayangkan bila itu saya tukarkan di penjual jasa penukaran. Tentu sudah membutuhkan 500rb lebih.

Friday, September 12, 2008

Anakku Penggemar Berat Tayangan Adzan Magrib

Sudah lama saya mendapatkan cerita dari istri saya kalau anak saya, Adissya, sangat menggemari tayangan adzan maghrib. Istri saya menceritakan bagaimana antusias Dissya ketika tayangan itu muncul di televisi tiap magrib tiba (magrib waktu Jakarta). Sayang sekali setiap magrib, saya lebih sering berada di luar rumah karena banyaknya urusan pekerjaan.

Namun, selama bulan puasa ini, beberapa kali saya sudah di rumah sebelum waktu magrib tiba. Ketika magrib (waktu Surabaya) berkumandang, ketika kami sedang sibuk untuk santap ta'jil, Adissya justru sibuk untuk berdiri di depan televisi. Sambil berputar-putar bermain-main dengan mainannya.

Beberapa saat kemudian, ketika tiba waktu magrib untuk daerah Jakarta, maka serentak beberapa televisi akan menayangkan adzan magrib. Karena kebiasaan istriku menyetel TransTV. Kalau tidak salah RCTI tidak menayangkan adzan magrib untuk area tayang di Jawa Timur. Dan diganti dengan iklan.

Disitulah aku melihat bagaimana tingkah polah anakku. Begitu adzan tiba, secara tiba-tiba dia segera mengambil bantal, dan segera duduk manis di atasnya. Kemudian dengan seksama dia menikmati alunan adzan magrib. Tanpa bergeser perhatiannya dari televisi.

Baru setelah tayangan adzan selesai, dia baru mau berdiri sambil teriak-teriak, "Allah ... Allah ....", sambil tangannya diangkat-angkat, seolah hendak takbiratul ikhram.

Nikmat rasanya melihat tingkah polah anak seperti itu, rasanya minuman dingin ta'jil yang baru saya nikmati, masih kalah segar dengan pemandangan yang disuguhkan oleh anak saya.

Thursday, September 11, 2008

Helmku Hilang Lagi

Sahur puasa, 10 September 2008.

Sudah lama Helm yang saya miliki tidak saya maintenance dengan baik. Kesan kusam sudah lama pula nampak dari Helm tersebut.

Akkhirnya setelah sahur kemaren, saya melihat helm yang tergantung di tembok dalam kondisi kusam, menjadi tidak tega.

Aku ambil helm itu, aku poles dengan salah satu produk pengkilat dan pelapis yang cukup terkenal. Clingggggg. Helm terlihat mengkilat dan cukup indah dipandang mata.

Siangnya, saya berkunjung ke Indosat Kayun Surabaya. Karena sudah lama tidak ke sana, banyak hal yang saya tanyakan ke customer service tentang layanan dan produk-produk terbaru. Walhasil saya cukup lama juga menikmati udara sejuk di ruang layanan Indosat.

Namun apa yang terjadi ketika saya sudah sampai di parkiran. Wow, ternyata si clinnkkk, sudah berganti rupa menjadi si buruk rupa. Wheladalah ... ternyata setelah di buat clink, bukan saya saya yang menjadi senang dengan keberadaannya. Tapi ada juga orang yang ingin turut memiliki helm tersebut.

Ya sudah deh ... sambil agak lesu, saya pulang dengan mengenakan helm si buruk rupa itu. Hehehe. Ada-ada saja.

Wednesday, February 06, 2008

Nyaris Saja Kebakaran

Punya rencana keluar rumah namun juga punya keinginan menghangatkan/memanaskan makanan ?

Sebaiknya berhati-hatilah !!!

Kemarin, Selasa, 5 Februari 2008, saya sudah bersiap-siap hendak menuju ke tempat client. Pada saat yang sama saya teringat jika sayur belum dipanasi. Kebetulan saat itu istri dan anak saya sedang berkunjung ke rumah mertua.

Kompor gas saya nyalakan, lalu dalam kondisi sudah siap berangkat, saya sempatkan membaca majalah untuk menunggu proses pemanasan sayur selesai. Alarm pun saya hidupkan (kebiasaan saya ketika memanaskan makanan).

Tiba-tiba telepon berdering. Dari salah satu client saya. Pembicaraan pun berlangsung beberapa menit. Nah, setelah selesai telepon, saya benar-benar lupa jika sedang memanaskan makanan. Langsung saja saya kunci pintu, saya starter motor saya, dan melajulah saya menuju client saya seperti rencana semula. Alarm yang berbunyi benar-benar tidak terdengar.

Alhamdulillah, Allah masing memberi signal. Tiba-tiba saya memegang saku celana belakang. Tempat dompet berada. Tidak ada di tempat. Artinya dompet saya ketinggalan. Saat itu juga ingatan memanaskan makanan juga muncul. Waduhhhhh .....

Segera saja saya memacu dengan kencang motor saya untuk kembali ke rumah. Begitu tiba di rumah, dengan secepat kilat saya sudah berada di dapur. Bau hangus menyebar ke mana-mana. Makanan yang saya hangatkan sudah tidak berbentuk lagi. Hitam semua. Panci yang digunakan juga bentuknya mulai berubah bentuknya karena panas yang diterimanya.

Tanpa menunggu komando lagi, kompor langsung saya matikan. Selanjutnya sambil masih termangu, nafas lega dan panjang berlalu dengan sendirinya. Hampir saja. Hampir saja.

Terima kasih ya Allah atas pertolongannya.

Monday, January 14, 2008

Hujan-Hujan Pake Jas Hujan Ponco

Berikut ini adalah message dari YM yang dikirimkan secara berantai :

"dear semuanya, saya mau berbagi informasi saja..teman saya hari ini telah meninggalkan rekan2 kerja, istri dan 2 anak yang masih usia 2 tahun dan 8 bulan serta cita2nya untuk mencari kehidupan yang lebih baik lagi bersama keluarga tercinta karena yang bersangkutan mengalami kecelakaan individual di daerah rawamangun pada pukul 6 pagi, jas hujan yang dipakai sehari2 menyangkut di putaran rantai ban belakang motor bebek yang ia kendarai; ybs tertarik ke belakang dan jatuh dengan leher patah...... untuk rekan2 pengguna motor, plis kalo sayang nyawa...jangan deh menggunakan Jas Hujan Model Ponco kalo mengendarai motor...jangan cari alasan karena bawa ransel atau bisa dipakai berduaan aktu boncengan dan simple dalam penggunaan...tapi nyawa harus meregang..."

Hmmmm ... jas hujan ponco ketika berkendara sepeda motor. Wow, lha saya juga masih pake itu sampe sekarang.

Bahaya dong ?
Memang.

Lha terus kok masih pake ?
Karena simple memakainya. Tinggal diblusukkan ke kepala sudah beres.

Apa gak takut terjadi seperti yang sudah-sudah ? Kecelakaan gara-gara ponconya kecantol ?
Mudah-mudahan jangan deh. Untuk itu, saya selalu bawa ikat kain, yang saya gunakan untuk mengikat jas hujan saya supaya gak terbang-terbang ketika sedang digunakan.

BTW, saya juga sedang mencari jas hujan model baju yang pas, yang enak dipakai, dan awet. Karena sebelumnya sudah beberapa kali membeli yang model gitu, tapi sering kali rusak. Dan juga jas hujan model baju tidak dapat mengamankan backpack dari serangan hujan. Itulah mengapa saya juga sedang mencari tas yang ada raincover-nya. Baru nemu satu merek yang cocok sih. Merek EIGER. Untuk jas hujan dan tas yang saya maksudkan itu, saya harus siap-siap merogoh kocek sedalam 800 ribu.

Lika Liku Mengurus Menjadi Warga Surabaya (Part #2)

Pada catatan lika liku sebelumnya, saya sudah berhasil mencatatkan diri ke Dispenduk Surabaya. Dari berkas tersebut, saya gunakan untuk mengurus pembuatan KK.

Dan KK itu sudah jadi. Hanya ada data saya sendiri pada KK tersebut. KK saya fotocopy untuk beberapa kepentingan selanjutnya.

Kepentingan pertama adalah upaya memasukkan data istri saya ke KK tersebut dan pembuatan akta anak saya. Surat pengantar pindah istri sebelumnya sudah diproses melalui pengantar dari RT, kemudian RW, kemudian ke kelurahan Mojo. Surta pengantar tersebut saya serahkan ke RT tempat saya tinggal dengan disertai KK saya yang sudah jadi. Dari RT surat pengantar penduduk masuk, ditandatangani pula oleh RW. Berkas-berkas tersebut selanjutnya diantar ke Kelurahan Kertajaya. Di Kelurahan kertajaya, berkas permohonan memasukkan penduduk baru dan pembuatan akta untuk anak saya di proses. Walau pada nantinya prosesnya tidak bisa sekaligus, melainkan harus bertahap. Untuk pengurusan akta anak saya, kembali saya harus menyerahkan 1 pohon sebagai syarat warga baru.

Kepentingan kedua adalah untuk membuat KTP saya yang baru. Permohonan membuat KTP yang dilampiri dengan KK saya serahkan sebagai syarat pembuatan KTP. Biaya dikenakan 10 ribu. Foto untuk KTP pun dilakukan. Seharusnya pembuatan KTP ini hanya membutuhkan waktu 30 menit. Namun karena waktu kedatangan saya sudah terlalu sore, sehingga KTP baru dapat diambil pada hari kerja berikutnya. Dengan demikian, hingga tahap ini, saya sudah berhasil memiliki KTP Surabaya.

Kembali ke berkas-berkas istri. Berkas-berkas saya serahkan untuk memasukkan data istri saya ke KK saya. Untuk menunggu berkas selesai, saya harus menunggu selama 10 hari lagi. Biaya yang dikenakan adalah 20 ribu.

Setelah 10 hari menunggu, pengurusan berkas KK pun selesai. KK saya yang semula hanya berisi data saya sendiri, kini sudah berisi data saya dan istri. Sementara KK mertua saya sudah berkurang, karena data istri saya sudah tidak terdapat di KK tersebut lagi. Dengan KK ini, saya dapat mengajukan permohonan pembuatan KTP untuk istri. Permohonan pembuatan KTP istri saya sudah siap. Biaya dikenakan 10 ribu lagi. Selanjutnya istri saya foto untuk KTP tersebut.

Sampai di sini, saya sudah menjadi warga Surabaya, sudah punya KK, sudah punya KTP. Istri saya juga sudah tergabung dengan KK saya, juga sudah punya KTP baru. Proses berikutnya adalah mengurus berkas akta kelahiran anak saya.

Saturday, December 29, 2007

Blogwalking Dibilang Kerja

Keluargaku memang merupakan salah satu dari jutaan keluarga di Indonesia ini yang tidak mengenal dunia INTERNET. Apalagi Blog.

Yang paling parah waktu beberapa hari yang lalu saya menginap di rumah orang tua saya. Selama 2 malam 1 hari. Jam 7 malam saya sampai di rumah mereka, saat semua anggota keluarga sedang asyik dengan aktivitas masing-masing. Ada yang menonton tv, ada yang sedang makan, ayahku sendiri sedang wiridan di ruang sholat. Sementara nenek sedang sibuk klutekan di dapur.

Sesampai di rumah saya langsung berganti pakaian menjadi kathok'an cekak plus kaos oblong. Buka tas, ambil meja kecil, keluarkan laptop, nyalakan, koneksi dengan internet. Baru saya mulai beraktivitas lainnya setelah itu. Sholat isya' yang saya lanjutkan dengan makan malam.

Setelah selesai makan malam, maka saya segera kembali duduk ke singasana berupa meja kecil yang di atasnya telah tersedia laptop yang sudah terkoneksi dengan internet. Berselancar ke beberapa situs, membuka email, mencoba berkomunikasi dengan beberapa rekan yang YM-nya aktif, nge-klik PTC, hingga membaca beberapa blog rekan-rekan.

Khusus aktivitas membaca blog ini sering kali melanglang buana entah ke mana. Istilahnya blogwalking. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 2 malam. Suasana sekitar juga sudah sepi, entah terjadi mulai kapan.

Tiba-tiba ibuku muncul sambil berjalan agak terhuyung dari arah kamarnya menghampiri saya. Beberapa saat tertegun mengamati saya yang sedang asyik di depan laptop. Dan, selanjutnya ibu saya berkomentar, "lha iyo kerjo kok sampe dalu2 ngono ... kapan waktu kanggo keluargamu ???"

terjemahan :
"Lha iya, kerja kok sampai larut malam begini, kapan waktu untuk keluargamu"

Hmmmm .... blogwalking kok dibilang kerja ... hehehehe ...

Monday, December 17, 2007

YES !!! Bisa Pakai Kaos !!!

Terakhir saya menggunakan kaos adalah pada hari Selasa, 30 Oktober 2007. Satu setengah bulan berlalu tanpa saya bisa menggunakan kaos. Itu karena saya memang sedang tidak bisa memasang kaos karena saya belum yakin apakah tulang klavikula saya sudah benar-benar sembuh. Walau semakin hari tampaknya kondisinya semakin menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.

15 Desember 2007. Saya membuka lemari pakaian. Susunan kaos yang bertumpuk, membuat saya beberapa kali harus menelan ludah. Kapan ya bisa menggunakannya kembali. Saya ambil 1 kaos yang paling longgar dan berbahan lentur. Saya masukkan kedua tangan saya pada lubang lengan, berikutnya dengan sedikit memiringkan posisi badan, saya memasukkan kepala ke lubang kepala. Dan ....

Kaos bisa terpasang dengan baik.

Eh ... lalu bisa pasang tapi tidak bisa ngelepas. Yang bener aja nih ...

Kembali saya mencoba membalik algoritma memasang kaos untuk melepas kaos tersebut. Lebih repot memang. Tapi akhirnya kaos sudah bisa terlepas dari badan.

Hmmmm ... brarti tidak berapa lama lagi, sudah bisa badminton lagi, bilyar lagi, dan ...

"Brarti sudah bisa kerja bakti bersih-bersih rumah lagi doooongggg ... ", celetuk Istriku girang.

Aseeeemmmmmmmmmm .... Eh ... Alhamdulillahhhhh ....

Lika Liku Mengurus Menjadi Warga Surabaya

Sejak 1992 saya sudah menghabiskan banyak waktu hidup saya di Surabaya. SMA di Surabaya, Kuliah juga di Surabaya, Kerja di Surabaya, Menikah dengan gadis Surabaya. Walau di antara masa-masa itu saya sempat juga mencicipi hidup di kota-kota lain.

Walau sudah 15 tahun waktu berlalu, namun baru Agustus 2007 ini saya berinisiatif untuk mengurus administrasi untuk menjadi warga Surabaya.

Di mulai dari bulan Agustus 2007 saya mendatangi Ketua RT rumah orang tua saya di Gresik, untuk mendapatkan surat pengantar pindah. Selanjutnya surat itu saya antarkan ke Ketua RW untuk disetujui dan diberi stempel RW.

Proses berlanjut. Surat pengantar RT/RW saya serahkan ke Kelurahan. Selanjutnya saya harus mengurus ke Kecamatan serta SKCK dari kepolisian setempat. Saya ditawari mau mengurus sendiri atau diuruskan oleh petugas kelurahan. Saya jawab minta tolong
saya, karena saya malas untuk mondar mandir ke Menganti Gresik. Prosesnya membutuhkan waktu 3 hari. Walau dijanjikan 3 hari, namun saya baru bisa mengambil berkas-berkas di kelurahan seminggu kemudian.

Berkas-berkas tersebut saya tunjukkan ke RT tempat tinggal tujuan untuk mendapatkan surat pengantar. Namun karena pada saat tersebut sedang terjadi pergantian RT dan RW, maka proses pengurusan surat pengantar ini memakan waktu 1 minggu sendiri.

Surat pengantar dari RT/RW saya bawa ke Kelurahan. Di sana saya dijelaskan tentang berkas-berkas yang harus dilengkapi. Plus syarat menyediakan 1 pohon.

Setelah 2 minggu saya baru kembali ke Kelurahan dengan segala berkas-berkas yang harus dipenuhi. Kemudian petugas kelurahan membuatkan surat SPMP (Surat Permohonan Menjadi Penduduk). Saya juga dibuatkan surat penjamin yang harus ditandatangani oleh Pimpinan tempat saya bekerja, dan Pak Sumarto sebagai penjamin tempat tinggal.

Saya lalu kembali lagi untuk ketiga kalinya ke kelurahan untuk menyerahkan surat penjamin. Berkas-berkas ditata sedemikian rupa oleh petugas sesuai dengan peruntukannya.

Berkas SPMP sudah siap diserahkan ke kecamatan untuk mendapatkan tandatangan dari Camat setempat. Pada saat berkas saya masukkan ke kecamatan, saya mendapatkan tanda terima dan harus mengambilnya 2 hari kemudian. Saya baru dapat mengambilnya seminggu kemudian. Berdasarkan perda baru tentang kependudukan, saya harus membayar 10 ribu.

Berkas dari kecamatan, segera saya antarkan ke Dispenduk Surabaya untuk diproses menjadi warga Surabaya. Untuk proses ini membutuhkan 5 hari kerja. Untuk proses ini, biaya administrasinya 25 ribu.

Seminggu kemudian saya sudah bisa mengambil berkas dari Dispenduk Surabaya, yang menyatakan bahwa saya sudah tercatat sebagai warga Surabaya. Selanjutnya saya harus kembali ke kelurahan dan kecamatan untuk mengurus pembuatan Kartu Keluarga. Ternyata proses di kelurahan tarif yang harus dibayar adalah 25 ribu. Sementara proses di kecamatan membutuhkan biaya 10 ribu. Proses di kecamatan untuk pembuatan Kartu Keluarga ini adalah 10 hari kerja. Bila KK ini sudah selesai, maka saya bisa segera mengurus pembuatan KTP.

Ini baru proses pengurusan mencatatkan saya menjadi warga Surabaya. Misi selanjutnya adalah mengurus proses perpindahan istri saya dan pembuatan Akta Kelahiran anak saya. Mudah-mudahan proses tersebut dapat dijalankan bersama-sama. Sehingga saya tidak sampai harus bosan berkunjung ke kantor kelurahan dan kecamatan.

Dan misi lainnya, yang juga harus segera saya urus adalah pembuatan SIM A dan C saya yang sudah habis. Seharusnya saya sudah harus memperpanjang bulan agustus 2007 lalu. Namun karena ingin membuat SIM dengan status warga Surabaya, terpaksa saya harus menunggu proses pembuatan KTP Surabaya selesai dahulu. Karena KTP inilah yang akan menjadi salah satu kelengkapan utama mengurus SIM.

Sunday, December 02, 2007

Mimpi Yang Aneh

Malam tadi, Sabtu - 1 Desember 2007, saya sudah berencana untuk menyaksikan siaran langsung Juve vs Milan dan dilanjutkan dengan menyaksikan Espanyol Vs Barca.

Namun rencana hanya tinggal rencana. Saya masih harus berkutat dengan pekerjaan hingga pukul 12 malam. Hingga akhirnya kantuk yang sangat melanda membuat saya untuk meninggalkan pekerjaan yang masih belum selesai.

Saya pun tidur. Dan langsung nyenyak tanpa basa basi.

Tiba-tiba saya dikejutkan dengan seseorang gadis yang sangat saya kenal. Dia berinisial 'D'. Setelah memberikan selembar kertas yang setelah saya baca ternyata bertuliskan sebuah alamat, secara tiba-tiba sosok 'D' menghilang.

Akhirnya saya berinisiatif untuk mengunjungi tempat tersebut. Saya pun berkendara dengan menggunakan sepeda angin, yang secara tiba-tiba ada teman saya berinisial 'R' yang juga mendampingi perjalanan saya. Perjalanan saya tempuh dengan susah payah, yang mengarahkan saya pada sebuah tempat yang cukup kumuh. Banyak sekali sampah berserakan di tepi jalan. Namun ternyata warga kawasan tersebut cantik-cantik dan putih-putih. Sangat kontras dengan kondisi lingkungan sekitar.

Berkali-kali saya bertanya tentang alamat tersebut, berkali-kali pula saya harus menelan kekecewaan karena justru saya harus mondar-mandir di tempat yang sama ketika harus menuruti petunjuk dari orang-orang yang saya tanya.

Saya dan 'R' pun memutuskan untuk berpisah mencari ke arah yang berbeda.

Dengan berbagai rintangan yang saya hadapi, akhirnya saya mengarah pada sebuah bangunan tua yang berada di seberang sungai, yang airnya sudah hampir tidak mengalir lagi. Sudah hitam pekat. Saya harus menyeberangkan sepeda angin saya dengan memanfaatkan jasa perahu derek yang ada di situ. Akhirnya saya berhasil mencapai seberang.

Segera saya menuju ke bangunan tua itu, ternyata setelah masuk, bangunan tua itu terdiri dari beberapa petak-petak. Seolah-olah seperti rumah susun. Saya pun mencari nomor yang tertera pada alamat. 10D.

Mencari nomor rumah, rupanya turut menyumbang tingkat kesulitan yang harus saya hadapi. Nomor-nomor itu tidak urut dan sangat acak. Dengan terpaksa saya harus mencari satu per satu. Di Lantai I tidak ada. Di lantai II juga tidak ada. Akhirnya sampailah saya di lantai III. Ternyata lantai III itu berbentuk seperti kamar-kamar yang mengelilingi sebuah ruangan yang agak luas di tengahnya. Di sana tampak sebuah televisi hitam putih dengan suara yang kurang enak di dengar telinga. Sementara beberapa orang tampak tidur-tiduran menyaksikan acara yang ditayangkan.

Tiba-tiba saya bertemu dengan 'R' berada di tengah-tengah kumpulan orang tersebut turut serta menyaksikan acara di tv. Saya juga bertemu dengan orang-orang yang sangat familiar. Ibu dan Bapak 'D' ada di sana. Kakak 'D' dan suaminya juga ada di sana. Sementara saya melihat 'D' secara sekilas berada di dalam salah satu kamar. Namun dia tidak mau menemui saya. Sementara suami dari kakaknya 'D' bertegur sapa sambil mengingatkan tentang kejadian beberapa waktu yang lalu di mana saya secara tidak sengaja bertemu dengan istrinya (kakak 'D') di salah satu penerbangan karena bersiul-siul dengan nada yang sangat khas.

Akhirnya perbincangan pun terjadi antara saya dan ibunda 'D'. Salah satu dialog yang masih saya ingat betul adalah :
ID (ibunda 'D') : gimana kabarnya mas ?
S (Saya) : alhamdulillah baik bu ...
ID : sudah nikah ?
S : sudah bu, sudah punya anak satu
ID : oh gitu ya, sayang sekali
S : ya gimana ya bu, saya tunggu-tunggu anak ibu ternyata nggak mau saya nikahi
ID : maaf ya mas, memang D itu susah diatur

Kemudian perbincangan terhenti begitu saja, dan secara tiba-tiba saya harus BANGUN. Tersenyum sendiri sambil mengingatkan mimpi yang baru saja terjadi. Mencari-cari ponsel yang senantiasa berada di sekitar saya. Melihat jam. Dan ternyata sudah jam setengah empat pagi. Waktunya bersiap-siap untuk sholat Subuh.

FYI, 'D' adalah salah satu teman dekat saya yang kini bekerja di Jakarta. Dan juga sudah menikah. Bekerja di salah satu perusahaan pemerintah daerah. Adapun rumahnya di salah satu kota di Jawa Tengah. Di mana saya sebenarnya juga pernah berkunjung ke rumah tersebut.

FYI, 10D mungkin di ambil dari tanggal lahirnya digabungkan dengan inisial namanya.

FYI, sebenarnya yang bertemu dengan saya di salah satu penerbangan beberapa waktu yang lalu adalah kakak ipar dari temanku lainnya yang memang saya kenali ketika tiba-tiba di depan saya ada seorang perempuan bersiul-siul dengan siulan yang khas. Nggak banyak lho perempuan bersiul-siul mendendangkan sebuah lagu.

Akhir kata, postingan ini hanya bercerita tentang mimpi. Jika ada yang tidak berkenan, mohon maklum ya. Namanya juga mimpi.

Saturday, December 01, 2007

Akhirnya Aku Bisa SUJUD Lagi

Setelah satu bulan ini bergelut dengan patah yang mendera tulang klavikulaku, akhirnya JUMAT, 30 Nopember 2007, adalah merupakan saat yang membahagiakan. Pada saat sholat Jumat, saya sudah bisa sujud dengan menempelkan bathuk-ku ke atas sajadah.

Walah, lha wong gitu aja kok bahagia ???

Yang jelas, begitu kejadian kecelakaan itu, yang selain menyebabkan patah pada klavikulaku, saya juga tidak bisa menekuk kaki dengan leluasa, karena beberapa luka yang menghiasi dengkul kananku. Saya hanya bisa sholat sambil duduk di kursi.

Seminggu kemudian, ketika luka di lutut mulai sembuh. Saya baru bisa sholat sambil berdiri layaknya orang normal sholat. Namun saya tidak bisa ruku dengan menekuk hingga 90 derajat. Juga tidak bisa sujud hingga menempelkan kening ke sajadah. Hal itu berlangsung hingga akhir Nopember 2007. Memang setiap saat ada perkembangan positif. Makin lama kening saya makin bisa saya dekatkan dengan sajadah, namun tetap saja tidak mampu menempel. Karena rasa sakit yang muncul secara sporadis dari area klavikula.

Nah, pada hari Jumat itulah, tepatnya sebulan setelah saya jatuh, akhirnya saya bisa sujud dengan sempurna. Rasa sakit yang muncul juga tidak terlalu menjadi masalah.

Alhamdulillah ya Allah. Secercah harapan sudah Kau tunjukkan di hadapanku. Itu artinya klavikulaku sudah makin pulih. Dan saya akan bisa kembali ke kesibukan sebagaimana sediakala.

Next target : bisa pake kaos

Wednesday, November 07, 2007

Klavikula-ku : Sangkal Putung (2)

Episode Sebelumnya :
Pada hari Rabu, 31 Oktober 2007, setelah mendapatkan penanganan ala Sangkal Putung, saya diwanti-wanti untuk tidak terlalu banyak bergerak. Khususnya tidak mengangkat lengan saya terlalu tinggi.

Namun larangan itu sudah harus terlanggar pada Kamis pagi. Setelah bersih-bersih diri, saya merasa sangat mengantuk, sehingga sekitar jam 9 pagi saya manfaatkan untuk tidur. Nah, pada saat tidur tersebut, saya harus terbangun secara mendadak oleh rasa sakit yang terasa pada pundak saya. Oh, my God. Rupanya saya baru saja secara refleks memukul nyamuk ketika tidur tadi.

Akibat kejadian itu, saya merasakan ada benjolan yang kembali muncul di pundak saya. Dan rasa sakit kembali muncul karena benjolan itu harus tertekan oleh ikatan "sewek" yang membelit pundak saya.

Malangnya lagi, Sangkal Putung yang saya datangi setiap hari Kamis libur. Sehingga harus menunggu keesokan harinya.

Jumat, 2 Nopember 2007, kami kembali ke Sangkal Putung. Namun kali ini ayahku tidak turut serta. Rombongan sholat Jumat di perjalanan. Dan, sekitar jam 14.00 kami sudah sampai di sana. Ternyata Sangkal Putung belum buka, dan harus menunggu jam 16.00. Saat itu sudah ada 3 pasien lain yang sudah mengantri menunggu giliran. Sehingga saya mendapatkan giliran ke-4.

Macam-macam yang dialami oleh pasien-pasien yang lain tersebut. Ada yang salah urat, ada yang tangannya kepelintir, satunya lagi ada yang tulang pahanya patah, dan sudah datang yang ketiga kalinya. Dari bincang-bincang santai, diketahui bahwa kondisi pasien yang tulang pahanya patah tersebut sudah membaik.

Ketika Sangkal Putung itu dibuka, total sudah ada 5 pasien yang menunggu. Pada saat saya mendapatkan giliran, saya menyampaikan kondisi yang saya alami. Sambil mengatakan "tidak apa-apa gini lho" tangan Haji Abdullah membenahi posisi tulang klavikula saya. Ajaib, benjolan yang semula ada itu tiba-tiba hilang entah kemana. Rasa ngilu yang saya rasakan semenjak benjolan itu muncul, juga tiba-tiba menghilang dengan sendirinya.

Dalam perjalanan pulang, para pengantar saya merasa "cegek" dengan perlakuan Haji Abdullah. Jauh-jauh dari Gresik, ternyata hanya mendapatkan perlakuan di tepuk-tepuk sebentar. Walau hanya tepuk-tepukan itu saja, tapi khasiatnya sangat nyata. Hebat.

Fariz RM dan Saya

Fariz RM ketangkel lagi karena kasus Narkoba. Hmmm.

Memori langsung melompat ke akhir tahun 80-an. Saya termasuk salah satu penggemar Fariz RM. Seorang musisi yang menggunakan keyboard di"cangklong" di pundak ala gitar. Musisi yang memperkenalkan sentuhan elektronik di karya-karyanya yang dahulu sempat dipandang remeh oleh musisi lain di jamannya.

Saking ngefans-nya, saya sampai tidak bisa melupakan saat saya mendapatkan kesempatan untuk mewawancarainya langsung. Fariz lah artis pertama yang pernah saya wawancarai.

Saat itu saya masih kelas 2 SMA. Suatu ketika OSIS menggelar acara Pengajian Akbar, yang tentu saja membutuhkan banyak dana. Dalam rangka mencari dana sebanyak-banyaknya, saya memasuki radio demi radio untuk bersedia memberi dukungan promo kegiatan sekaligus menyampaikan kepada masyarakat luas bagi yang ingin memberikan sumbagan.

Salah satu radio tersebut adalah EBS FM. Kawula muda Surabaya pasti tahu radio ini. Dari radio inilah akhirnya saya dan Adi, teman saya, diajak untuk turut menghadiri buka puasa bersama di hotel ELMI Surabaya. Dan ternyata pada saat itu datang juga bintang tamu Fariz RM yang kebetulan sedang berkunjung ke Surabaya.

Seusai acara, saya memberanikan diri mengaku dari majalah sekolah untuk mewawancarai Fariz RM. Ternyata Fariz adalah seorang yang ramah. Dia memberi kesempatan saya untuk berbincang-bincang secara eksklusif sambil menyantap hidangan makan malam setelah sholat tarawih. Dengan didampingi istrinya, Fariz bercerita banyak tentang bagaimana dia memulai karirnya. Suasana sungguh guyup sekali.

Hasil wawancara itu memang akhirnya sempat tayang di majalah SKETSA. Majalah sekolah saya. Dan saya beri judul "Wirid dan Dzikir Iringi Jejak Karir Fariz RM". Cukup ironis dengan apa yang dialaminya sekarang.

Saturday, November 03, 2007

Klavikula-ku : Sangkal Putung (1)

Episode Sebelumnya :

Akhirnya keputusan mencoba jalur alternatif memanfaatkan jasa Sangkal Putung dipilih. Dari berbagai informasi, akhirnya disepakati untuk mencoba Sangkal Putung yang berada di Pasuruan. Tepatnya desa Lekok.

Rabu, 31 Oktober 2007, sekitar pukul 15.00, saya berangkat menuju Sangkal Putung tersebut diantarkan oleh ayah, ibu, dan sepupuku Mas Idris. Di tengah jalan, kami menyempatkan diri mampir ke Lab. Pramita. Untuk mengetahui kondisi terkini dari klavikula saya. Ternyata dari hasil foto, kondisinya masih sama persis dengan foto yang dilakukan di RS. Darus Syifa. Jadi treatment yang dilakukan dokter RS Dr. Sutomo tampaknya belum memberikan dampak apapun.

Kebetulan daerah Porong tidak terlalu padat, sehingga bisa melaju dengan lancar. Namun karena di perjalanan harus diwarnai dengan bertanya rute yang harus dilalui. Sehingga perjalanan tersebut ditempuh dalam waktu hampir 3 jam, walau dengan menggunakan mobil pribadi.

Sekitar jam 17.30 kami sudah berada di rumah Haji Abdullah. Kebetulan pasien saat itu hanya 1 orang pasien. Sehingga tidak membutuhkan waktu lama bagi saya untuk segera dilayani. Pasien tersebut patah tulang lengannya. Dan sudah 3 kali ke tempat tersebut. Dari istrinya, saya mendapat info jika kondisi suaminya sudah sangat baik.

Tibalah giliran saya. Baju saya dibuka. Kemudian, ikatan yang dilakukan oleh dokter segera dilepas. Sambil menyampaikan bahwa tali pengikat ini bukan fungsinya. Setelah itu posisi tulang saya dibetulkan. Rasanya sakit luar biasa. Tapi saya mencoba menahan rasa tersebut, sambil terus membaca istighfar. Berikutnya, pundak saya diikat dengan menggunakan kain "sewek". Kali ini benar-benar diikat dengan kencang. Berbeda dengan ikatan yang dilakukan oleh dokter sebelumnya. Proses penanganan saya tidak membutuhkan waktu lama. Mungkin sekitar 20 menit saja.

Ketika saya keluar dari ruang prakteknya, ternyata sudah menunggu beberapa pasien berikutnya. Lumayan banyak juga pasien yang menggantungkan asa dari Sangkal Putung ini.

Klavikula-ku : Rumah Sakit

Episode Sebelumnya :

Hasil foto rontgen yang saya lakukan di RS. Darus Syifa, segera saya tunjukkan pada dokter poli yang sedang bertugas. Dari beliau saya mendapatkan informasi kalau tulang klavikula saya patahnya agak jelek. Sehingga harus operasi. Biaya di rumah sakit tersebut kira-kira 5-7 juta.

Sesampai di rumah, saya dan orang tua rundingan. Akhirnya diputuskan untuk mencoba mencari rumah sakit alternatif. Siapa tahu biayanya bisa lebih murah. Dipilihlah RSUD Dr. Sutomo.

Setelah Isya, kami segera berangkat menuju ke IRD RSUD Dr. Sutomo. Setelah melalui beberapa prosedur, akhirnya saya mulai ditangani oleh Dokter jaga bagian bedah di IRD tersebut. Saya pun disarakan untuk melakukan foto rontgen sekali lagi sebagai bahan perbandingan dengan foto rontgen sebelumnya. Ternyata di RSUD Dr. Sutomo biaya yang dikeluarkan diperkirakan 5-10 juta.

Pada saat rembukan orang tua rembukan tentang pilihan yang mau diambil, saya ditangani oleh dokter. Pundak saya diikat sedemikian rupa, sehingga saya merasa lebih nyaman. Berikutnya saya dirujuk untuk kembali memeriksakan diri ke poli setelah seminggu kemudian.

Malamnya, sepulang dari RS Dr. Sutomo, diskusi kembali dilangsungkan. Beberapa keluarga dekat turut datang, sambil mengargumentasikan pendapatnya. Akhirnya diputuskan untuk mencoba ke Sangkal Putung terlebih dahulu. Kebetulan ada tetangga saudaraku yang baru saja sembuh dari patah tulang setelah berobat ke salah satu Sangkal Putung. Salah satu pertimbangan adalah karena dokter yang mengubah rujukan periksa kembali ke poli dari 3 hari menjadi seminggu.

Klavikula-ku : Patah

Selasa pagi, 30 Oktober 2007, baru saja pulang dari Jember. Setelah mandi pagi dan sarapan telur + mi goreng, segera saja saya menuju ke arah Rungkut. Melewati jalan Jemur Sari. Jemur Sari pagi itu tergolong sepi, sehingga jalan yang panjang, lebar, dan relatif mulus itu membuat saya memacu Pio saya melebihi 100 km/j.

Beberapa saat setelah saya berhasil mendahului sebuah mobil Carry (atau sejenisnya, kurang jelas soalnya), tiba-tiba saya merasa ban depan berjoget. Saya perhatikan ternyata ban depan kempes. Dengan segenap usaha, saya berusaha mengontrol jalannya Pio. Rem, lepas, rem, lepas. Sambil oleng-oleng, kaki kiri dan kanan bergantian menjejakkan kaki agar posisi Pio tetap berdiri sambil mengurangi kecepatan.

Hingga kecepatan mendekati 40 km/jam, tiba-tiba mobil Carry yang saya dahului tiba-tiba sudah berada di sebelah kiri saya. Dan Pio dan Carry pun bersenggolan. Keseimbangan Pio sudah benar-benar tidak bisa saya kendalikan lagi. Sehingga saya terlempar ke kanan. Untung saja tidak ada aktor lain di jalan pada saat tersebut. Sehingga kecelakaan yang lebih tidak diinginkan tidak terjadi.

Saya berusaha bergulung-gulung meminimalisasi efek terjatuh. Namun sayang, tas ransel yang saya bawa, yang kebetulan memang cukup berat, tidak bisa diajak kompromi. Serasa tas tersebut membetot pundak saya.

Begitu bergulung2, tiba-tiba saya sudah berdiri lagi. Entah bagaimana caranya saya bisa langsung berdiri, sebagaimana beberapa kejadian kecelakaan sebelumnya. Mungkin karena faktor refleks yang pernah saya dapatkan dari mengikuti beladiri sejak kecil. Wallaahualam.

Saya berusaha mendirikan Pio saya yang terguling, namun ternyata agak susah juga. Beruntung dengan bantuan beberapa orang yang turut berhenti di sekitar saya, akhirnya Pio itu bisa juga berdiri.

Selanjutnya saya segera mengeluarkan notebook dari ransel saya. Saya hidupkan, ternyata Axioo saya itu masih bisa bekerja dengan normal. Walau kondisinya cukup menghawatirkan. Hebat juga nih produk.

Setelah mengamati kondisi bagian depan Pio yang ternyata tidak terlalu memprihatinkan, bahkan setirnya sama sekali tetap center, membuat hati agak lega. Salah satu penolong saya yang berumur 40 tahunan, bernama Bapak Syaiful berkenan memberikan bantuan secara optimal. Bahkan beliau pula yang mengurus proses pergantian ban depan saya tersebut entah di mana. Sementara adiknya menemani saya, di saat para penolong lain sudah mulai meninggalkan saya untuk menuju tujuannya masing-masing.

Saat itulah saya mulai merasakan ada yang tidak beres dengan tulang klavikula saya. Ada tonjolan di area tersebut. Begitu saya tunjukkan pada pak Syaiful dan adiknya, sambil mengolesi luka "babras" di lutut saya dengan betadine yang entah dia dapatkan dari mana, pak Syaiful menawarkan diri untuk mengantar saya ke Rumah Sakit terdekat. Sungguh mulia mereka, mudah-mudahan Allah membalas kebaikan mereka.

Setelah motor saya berhasil diganti ban dalam depannya, maka pak Syaiful pun menyampaikan pula bahwa motor saya masih bisa dinaiki sambil lepas tangan. Alhamdulillah, dengan jatuh seperti itu, Pio masih sehat-sehat saja. Hanya spidometernya saja yang hancur. Namun meteran kecepatan, kilometer, odometer, dan meter bensin masih bekerja. Hanya meter RPM saja yang sudah tidak berfungsi lagi.

Saya pun menawarkan diri untuk mencoba sendiri motor saya. Apabila berhasil, maka saya akan pulang sendiri. Ternyata, saya pun berhasil. Akhirnya Pio saya kendarai secara perlahan pulang ke rumah saya di Kertajaya.

Sesampai di rumah, saya langsung menghidupkan kembali notebook saya untuk memeriksa seberapa parah akibat kecelakaan tersebut. Modem 3G, mouse wireless, semua masih berfungsi dengan baik. Bahkan DVD RW yang kondisi fisiknya cukup menghawatirkan, juga masih bisa berfungsi dengan baik.

Lalu saya memutuskan untuk tidur sambil menenangkan diri.

Sekitar jam 1 siang saya terbangun. Ada rasa ngilu yang amat sangat di area klavikula saya. Saya mencoba melepas baju. Berhasil. Selanjutnya, saya membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk melepas kaos dalam saya. Sangat sakit rasa yang diakibatkan. Dalam hati saya semakin yang kalau saya mengalami patah tulang. Tidak sekedar retak atau dislokasi.

Setelah mandi dan sholat dhuhur, saya bergegas membawa Pio ke dealer Yamaha di Jalan Basuki Rahmat. Setelah berkonsultasi dengan salah seorang mekanik yang memang sudah saya kenal baik, saya memutuskan untuk pulang ke rumah Orang Tua di Gresik dengan menggunakan kendaraan umum.

Sesampai di rumah Orang Tua, saya segera diantar ke Rumah Sakit terdekat melakukan foto rontgen untuk mengetahui seberapa parah kondisi tulang klavikula saya tersebut. Dari hasil foto, terbukti sudah. Tulang klavikula saya patah. Oh, my God.

Wednesday, October 31, 2007

Nikmatnya Bisa Memasang Kaos Sendiri

Memasang kaos sendiri, mungkin sesuatu pekerjaan yang sangat mudah. Bahkan untuk menggunakannya sudah di luar kepala kita.

Namun, saya benar-benar merasakan nikmatnya bisa menggunakan atau mencopot kaos sendiri kemarin. Kecelakaan yang saya alami pada Selasa pagi, 30 Oktober 2007, ternyata hingga mengakibatkan tulang klavicula saya patah. Sehingga tangan tidak bisa bergerak secara bebas.

Dan untuk melepas kaos saja, saya membutuhkan waktu 15 menit. Hanya untuk mencari tahu cara melepasnya agar tidak menyebabkan rasa sakit yang amat sangat.

Ketika ingin mengenakan kaos, saya hanya bisa memandangi kaos tersebut. Tidak tahu bagaimana caranya kaos tersebut bisa saya pakai. Yang jelas sejak kecelakaan saya kemarin, yang kebetulan menggunakan kaos, hingga detik ini, saya harus menggunakan baju. Walau itupun harus dibantu oleh orang-orang terdekat saya.

Subhanallaah. Fabiayyi aala irabbikumaa tukadzdziban. Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan ?