Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Monday, November 22, 2010

Semua Itu Ada Hikmahnya

Membangun sebuah sistem informasi yang kita yakini berasal dari ide yang relatif original (walau pada kenyataannya ide yang menggabungkan berbagai ide-ide lain yang sudah ada sebelumnya) selalu membuat kita emosional dalam mengawalnya.

Ada kalanya untuk mewujudkan sebuah ide, perlu dukungan dari pihak lain yang mampu mengisi berbagai kekurangan yang kita miliki. Misalnya berkaitan dengan pendanaan, akses, koneksi, dan sebagainya.

Nah, ketika ide sudah berubah wujud menjadi sebuah sistem yang dapat dinikmati hasilnya. Maka kita akan menemukan bahwa semua stakeholder proses tersebut selalu berebut untuk menyebut dirinya sebagai pemilik ide.

Ketika kita dihadapkan pada kondisi seperti ini. Apa yang akan kita lakukan ?

Kalau saya, lebih memilih untuk meninggalkan pihak-pihak yang akhirnya menjadi serakah dan melupakan kesepakatan awal. Bagi saya, ide tetap akan memilih siapa yang berhak memilikinya. Selain itu, mengapa kita harus menganggap bahwa kita lah sang pemilik ide ? Bukankah kita juga mendapatkannya dari ratusan atau ribuan ide-ide lainnya ?

Dengan merelakan ide yang kita miliki, maka kita sudah merancang sebuah jalan untuk membangun sebuah ide baru. Sebuah ide yang jauh lebih brilian dari ide sebelumnya. Dan yang pasti, selalu ada hikmah yang tersembunyi dari setiap kejadian. Termasuk ketika ide kita direbut oleh orang lain.

Wednesday, April 07, 2010

Jupe, Klimaks Sebuah Metamorfosa ?

Satu demi satu, artis-artis mulai merambah dunia politik. Mulai sekedar menjadi wakil rakyat, hingga menduduki jabatan eksekutif. Tidak tanggung-tanggung, yang diincar adalah kursi nomor 1 dan nomor 2 sebuah pemerintahan.

Dan, kali ini dunia pencalonan sedikit "geger", lantaran Pacitan, kabupaten Pak eSBeYe berasal, ternyata membuat sensasi dengan mencalonkan Julia "DadaMontok" Peres. Hehehe, terpaksa saya memberi nama tengah untuknya, karena asumsi yang terbangun adalah Jupe adalah seorang artis bermodal "besar".

Ya, Benar .... Jupe a.k.a Julia Peres !!!

Coba kita lihat siapa yang menjadi pendukungnya ? Ternyata sebuah koalisi ampera yang terdiri dari 8 partai politik (Partai Hanura, PAN, Gerindra, PBB, Partai Patriot, PDP, PKPB, dan PKPI).

Kini, di dunia maya sudah beredar berbagai iklan buatan "entah siapa" yang mendiskreditkan Jupe lengkap dengan image yang pernah terbangun sebelumnya. Seksi, berani berpakaian minim, dan tentu saja menjual modal "besar"nya itu lho.

Mengamati hal tersebut, saya hanya ingin mencoba melihat dari sisi lain, terlepas dari nafsu para poli-tikus untuk bertarung di kancah politik dengan berbagai cara.

Sisi pertama : para sesepuh parpol di Pacitan merasa mencalonkan Jupe adalah sebuah langkah cerdas untuk mencalonkan Jupe sebagai icon. Targetnya adalah menang, dan begitu menang, maka Jupe hanya menjadi "pajangan" jajaran eksekutif di Pacitan untuk "dhelok2an". Tentu saja bila ini yang menjadi landasan, maka mereka harus siap-siap menerima andai langkah ini akan menjadi blunder yang menghancurkan ambisi mereka.

Sisi kedua : Bagaimanapun Jupe sangat akrab dengan media. Dia bisa melambaikan tangannya atau menggoyangkan badannya agar media segera merapat. Tentu saja ini cara yang mudah untuk mempromosikan sebuah daerah yang mungkin nyaris tak terdengar prestasinya selain memunculkan tokoh yang justru kini menjadi Presiden RI.

Sisi ketiga : Siapa tau di kalangan partai koalisi Ampera ada yang nge-fans ama Jupe. Namun sangat menyayangkan kondisi Jupe saat ini. Sehingga perlu metode instan untuk "men-sopan-kan" Jupe. Tentu saja diharapkan ketika menjadi Wakil Bupati, Jupe akan berpenampilan lebih sopan. Apalagi Jupe sudah mengatakan gaji yang didapat dari posisi Wakil Bupati sudah cukup untuk menutupi kebutuhan hidup, sehingga dia bisa meninggalkan dunia entertainment.

Overall, saya sendiri tidak terlalu tertarik untuk menghujat pencalonan JUPE. Karena bisa jadi JUPE lebih bersih dari para koruptor, penjilat, poli-tikus yang selama ini hobby menggerogoti uang rakyat.

Andai pertanyaan dikembalikan ke diri kita masing-masing, pilih mana ? Jupe yang relatif bersih dari korupsi, atau para orang2 oportunis yang ingin mencalonkan diri karena mengharap kesempatan untuk mengeruk uang rakyat untuk kepentingan pribadi ?

Emboh ahhhhh ......


Thursday, October 08, 2009

Atas Nama Kemiskinan (2)

Atas Nama Kemiskinan (1)

Stren kali Jagir, Surabaya. Lagi-lagi harus ditertibkan. Dan lagi-lagi harus ada perlawanan dari penghuni setempat. Untungnya untuk yang terakhir ini penertiban langsung ditindaklanjuti dengan revitalisasi.

Mari mencermati para penghuni yang sering melakukan perlawanan. Mengapa mereka melakukan perlawanan? Mereka enggan untuk diminta pindah? Apa karena tidak mendapatkan dana santunan?

Ini masalahnya. Mengapa mereka merasa berhak mendapatkan dana santunan? Kalau namanya dana santunan, harusnya bersifat sukarela bukan? Dan tentu saja bukan merupakan prasyarat agar mereka mau pindah.

Lha, tanah yang mereka tempati saja sudah ilegal. Berarti mereka tidak punya hak sama sekali menggunakan lahan itu. Kalau toh akhirnya mereka bisa berdagang dan mengembangkan usaha di sana, seharusnya secara hitung2an usaha, mereka itu sudah untung besar. Tidak perlu menanggung cost berupa biaya lahan.

Lalu apa ya sebenarnya yang menyebabkan mereka merasa harus mendapatkan ganti rugi dalam bentuk uang santunan ??? Kalau alasannya untuk dapat memulai usaha baru ditempat lain membutuhkan modal yang tidak sedikit, lha memangnya mereka ini siapa? Kok bisa-bisanya harus mendapatkan perlakuan istimewa dari pemerintah daerah. Lalu kalau saya juga ikut-ikutan minta dana santunan untuk memulai usaha baru apa diperkenankan juga? Bagaimana dengan jutaan warga lain?

Hmmm ... yang jelas, mereka sedang mengatasnamakan kemiskinan. Memamerkan kesusahan, memamerkan anak-anaknya yang tidak terurus dengan benar. Sehingga mendapatkan belas kasihan. Tapi apa faktanya ? Ketika mereka ditawari untuk pindah ke rusun, ternyata lebih banyak yang tidak mau pindah. Bahkan yang pindah pun hanya sekedar untuk menyimpan barang-barang mereka, tapi enggan untuk tinggal di sana.

Lalu apa masih perlu mereka mendapatkan perlakuan istimewa dari pemerintah daerah? Apa hanya mereka yang mau dana santunan yang besarnya 5jt itu ??? Kalau saya sih MALU untuk menerima dana santunan itu.

Saturday, June 27, 2009

Colokan Listriknya Mana ?

Mungkin sudah saatnya para pelaku bisnis restoran, cafe, dan layanan publik lainnya yang mulai memikirkan bahwa salah satu fitur penting untuk kastamernya adalah COLOKAN LISTRIK.

Namun, masih banyak juga para pelaku bisnis tersebut yang berfikir konfensional. Dan merasa cukup puas dengan perkembangan bisnisnya saat ini. Bahkan ada pengusaha restoran yang harus menambal colokan listriknya dengan lakban. Sewaktu-waktu digunakan oleh mereka, maka lakban itu akan dibuka, setelah itu kembali ditutup dengan lakban. Seolah-olah colokan listrik itu tidak berfungsi.

Berapa sih harga listrik yang harus dibayarkan bila dibandingkan dengan kepuasan kastamer ? Bahkan tidak jarang banyak MALL pun masih memberlakukan dilarang menggunakan colokan listrik. Coba deh gunakan colokan listrik yang ada. Perhatikan dalam waktu dekat ada atau tidak satpam yang datang melarang kita menggunakannya, dengan alasan sudah aturan yang berlaku. Atau coba cari rumah sakit. Lihatlah kamarnya. Kelas I, II, atau bahkan kelas ekonomi. Tanyakan pada perawat boleh atau tidak menggunakan colokan listrik ?

MEDIT ??? Mungkin. Tapi menurut saya, lebih kepada cara pikir owner bisnisnya yang sudah kadaluarsa. Mereka mungkin tidak tau bahwa sekarang ini jamannya mobile. Kantor sudah berpindah kemana-mana. Rapat dapat dilakukan di mana-mana. Komunitas yang hobby hangout bersama berlama-lama sudah sedemikian luar biasa perkembangannya. Laptop, Netbook, PDA, dan berbagai perangkat mobile sudah sedemikian pesat. Dan semua itu butuh colokan listrik. Untuk apa ? Tentu saja untuk charge batre.

Nah, kini tergantung Anda. Apakah Anda sudah menambahkan fasilitas colokan listrik pada bisnis Anda ? Apapun itu jenis dan bentuk bisnis Anda. Atau Anda masih lebih memilih berminat dijuluki pebisnis kadaluarsa ?

Kerak Telor Terkapar di Surabaya

Baru saja hari jadi Kota Jakarta berlalu. Selain PRJ dengan segala "empet2an"-nya, hari jadi kota Jakarta seringkali dikaitkan dengan jajanan khas Betawi. Apalagi kalau bukan kerak telor. Makanan ringan berbahan dasar telor, ketan, kelapa, lada, dan beberapa rempah-rempah lainnya.

Di Surabaya sendiri, kerak telor sempat menjamur di beberapa kawasan. Sebut saja salah satunya adalah sepanjang jalan Kusuma Bangsa seberang Hitech-Mall a.k.a THR. Harga yang ditawarkan rata-rata 7000 sampe 8000 rupiah. Pada saat-saat awal dulu, para penjual kerak telor sempat diserbu masyarakat. Terlihat banyaknya penjual yang sibuk membuat kerak telor untuk stok sewaktu-waktu pembeli datang untuk membeli dagangannya. Memang kebanyakan dari pembeli, membeli untuk dibungkus. Tentu saja tetap dengan bungkusan khas kerak telor.

Seminggu yang lalu, saya sempatkan diri untuk hadir ditengah-tengah kepadatan pengunjung PRJ. Niatnya pengen tahu bagaimana PRJ sekarang. Ternyata hanya "empet" dan "lelah" yang saya dapatkan. PRJ memang bukanlah tipe pameran yang gue banget. Terakhir kali ke PRJ mungkin ketika masih SD dulu. Atau jangan-jangan saya memang belum pernah ke PRJ seumur-umur.

Nah, di saat-saat letih sedang mendera itulah saya sempatkan pula untuk membeli kerak telor. Ini adalah kerak telor pertama yang saya beli. Swear. Baru kali ini saya sempat merasakan bagaimana kerak telor itu.

Ketika duduk di kursi yang telah disediakan, kontan pedagang sudah menyodorkan kerak telor yang telah siap saji. Harganya 15rb. Wowww, mahal juga ya. Saya coba memakannya. Walah-walah, ternyata biasa banget. Hampir mirip rasanya dengan kl saya bikin telor goreng dengan taburan nasi jagung campur merica dan lada. Kirain nikmat kayak gimana. Sempet heran juga sih, gini aja kok sampe dibangga-banggakan warga betawi. Hehehehe ... maaf ini bukan SARA, lho. Mungkin mereka melihat dari sisi historis kali ya. Sementara saya hanya menilai pure dari sisi rasa dan tampilan kerak telor saja.

Pulang ke Surabaya, saya jadi penasaran dengan para penjual kerak telor yang ada di sepanjang Kusuma Bangsa. Ingin membandingkan apakah rasa kerak telor yang dijual juga seperti yang saya nikmati di PRJ itu ?

Sayang sungguh sayang. Perjalanan menuju Kusuma Bangsa sudah membayangkan penjual kerak telor berjejer-jejer sibuk membuat kerak telor. Ternyata yang saya temukan hanya satu pedagang. Itupun sedang "manyun" memandangi kendaraan yang berlalu lalang di depannya. Maksud hati ingin membeli kerak telor lagi langsung lenyap.

Memang sih kalo menurut penilaian saya, kerak telor yang senilai 7000 atau 8000 itu akan kalah pamor dibandingan dengan lontong balap, tahu campur, tahu tek, mi tek-tek, dan sebagainya. Jenis-jenis jajanan dengan harga sama, tapi sudah cukup melekat di lidah masyarakat Surabaya.

Oalah ... ternyata kerak telor yang melegenda itu hanya bisa segitu saja di Surabaya. Sekarang mungkin sudah terkapar. Bisa jadi sebentar lagi hanya tinggal cerita, bahwa di Surabaya pernah juga ada yang berjualan kerak telor.

Thursday, March 05, 2009

Masihkah kita ingin menjadi bagian dari mereka ?



Indonesia masih membutuhkan banyak ENTREPRENEUR. Ayo ... ayo ... siapa lagi yang berminat ???

Thursday, December 18, 2008

Butuh 10 Menit Untuk Membuat Lancar Kembali

Siang kemarin, di sebuah persimpangan rel kereta api. Aku duduk tepat di samping pintu perlintasan.

Pada suatu ketika, pintu perlintasan ditutup, menunggu kereta yang hendak lewat. Sebagaimana kebanyakan jalur kendaraan di persimpangan kereta, selalu ada pembatas jalan antara kedua lajur yang saling berlawanan arah.

Dan sebagaimana biasa, ketika pintu perlintasan ditutup, maka secara sporadis kendaraan motor langsung mengisi jalur yang berlawanan itu. Hal itu terjadi dari kedua arah.

Nah, begitu pintu perlintasan dibuka, maka kendaraan motor yang berlawanan arah itu, harus kembali masuk ke jalurnya semula. Demikian pula dari arah yang berlawanan. Sejak pintu perlintasan dibuka itulah, aku mulai menghidupkan timer. Ternyata hingga arus kendaraan menjadi benar-benar normal, harus membutuhkan waktu hingga 10 menit lebih.

Pointnya, kendaraan motor yang berusaha masuk melalui arah yang berlawanan itu, ternyata merupakan sikap egois yang dapat merugikan kelancaran orang lain. Sudah sepantasnya orang yang bertanggung jawab tidak ikut-ikutan cara kurang terpuji tersebut.

Sunday, September 21, 2008

Ujian Tanpa Soal

Menjalankan bulan puasa di tanah Jawa, dengan penduduk mayoritas muslim, seringkali bagaikan mengikuti ujian tanpa soal. Walau demikian masih saja banyak di antara peserta ujian yang harus gagal melaluinya. Dan mudah-mudahan saya tidak tergolong di dalamnya. Amiiin.

Bagaimana saya bisa menyebutnya seperti ujian tanpa soal ? Tentu saja karena pada saat kita berpuasa, warung-warung dipaksa tutup pada siang hari, tempat-tempat hiburan ditutup, siaran di TV selalu menyuguhkan acara-acara bermuatan religi.

Mungkin kita benar-benar akan merasa seperti mengerjakan ujian dengan soal-soal yang cukup berbobot, apabila saat kita menjalani puasa, ternyata tv-tv menyuguhkan acara seperti 11 bulan selain ramadhan. Warung-warung diberi kebebasan untuk membuka dagangannya. Tempat hiburan dibiarkan buka sebagaimana biasanya.

Dan andai berhasil melewatinya dengan setelah terlebih dahulu bersusah payah, maka di saat itulah kita benar-benar sukses melewati proses ujian yang diberikan. Sehingga dengan demikian kita akan benar-benar dapat menyambut hari kemenangan dengan perasaan syukur atas kekuatan yang telah dilimpahkan Yang Kuasa kepada kita.

Walau demikian adanya, sebaiknya saya tetap ingin mengucapkan :

Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1429 H. Minal Aidzin wal Faidzin. Mohon maaf lahir dan bathin.
Taqobbal Allaahu minna wa minkum, Taqobbal Yaa Kariim.

Saturday, June 07, 2008

Lagi-Lagi Adipura

Mendapatkan piala ADIPURA, mungkin sudah bukan hal asing bagi SURABAYA. Namun dengan nilai pas-pasan yang berhasil dicatatkan tahun ini, maka tidak salah jika saya menganggap piala ini lebih layak untuk disandangkan ke Ibu Tri Risma Harini, mantan Kadinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Surabaya.

Betapa tidak, untuk mendapatkan piala Adipura, setidaknya penilaian yang didapatkan adalah 73. Sementara nilai yang berhasil diraih Surabaya adalah 73.5. Hanya selisih 0.5 saja. Dan salah satu point tertinggi yang berhasil diraih, adalah dari penataan taman-taman kota. Siapa lagi kalau bukan karena sentuhan Ibu Tri Risma Harini ini. Andai saya ibu kita itu tidak optimal dalam memimpinnya. Dan hanya sekedar mendapatkan nilai baik saja, sudah tentu piala Adipura tahun ini bakal lepas dari tangan kita.

Selamat untuk Ibu Tri Risma yang skarang sudah nge-pos di pos barunya. Kabarnya Ibu Risma ini sudah mulai gembar-gembor program baru yang cukup ciamik, namanya URBAN FARM. Apakah urban farm itu, hemmmmm ... lain kali deh kita bahas lebih lengkap.


Taman Surya : Salah satu nilai plus plus yang berhasil mendongkrak penilaian

Saturday, May 31, 2008

Berjuang Sekuat Tenaga Menjaga Devisa Negara

Sudah tentu kita sering mendengar slogan TKI/TKW adalah pahlawan devisa. Namun tidak semua kita tahu mengapa bisa demikian adanya.

Jawabannya tentu mudah saja. Setiap warga negara Indonesia yang bekerja di negara lain, dan kemudian membelanjakan penghasilannya di Indonesia, maka dengan demikian telah terjadi pemasukan devisa untuk negara kita. Sama halnya bila kita melakukan eksport ke negara lain. Juga menyebabkan pemasukan devisa untuk negara kita. Dengan semakin banyak wisatawan asing bertandang ke negeri ini, maka secara otomatis mereka akan membelanjakan uangnya di Indonesia, sehingga ini juga akan menjadi pemasukan devisa untuk negara kita.

Sebaliknya, bila kita melakukan import barang, maka devisa negara kita akan berkurang. Sama halnya bila kita menggunakan uang kita hasil dari bekerja di dalam negeri untuk dibelanjakan di luar negeri. Atau kita bepergian ke luar negeri, ini juga dapat menyebabkan devisa negara kita berkurang.

Masih banyak hal-hal yang menyebabkan devisa negara kita berkurang :
- menggunakan barang/jasa dari Perusahaan Modal Asing
- menggunakan barang/jasa dari waralaba perusahaan asing
- menggunakan internet secara terus menerus ke situs2 asing

Nah, dari apa yang saya tulis di atas, tentu sudah selayaknya kita bisa mengira-ngira ke mana arah pembicaraan saya dalam kaitannya dengan judul di atas.

Beberapa hal kecil yang bisa kita lakukan adalah :
- Berjuang sekuat tenaga untuk tidak membeli produk asing, melainkan lebih mengutamakan menggunakan produk dalam negeri
- Berjuang sekuat tenaga untuk membeli barang/jasa kebutuhan sehari-hari ke tempat-tempat yang permodalannya asli milik bangsa sendiri, atau lebih baik belanja di warung sebelah rumah saja.
- Berjuang sekuat tenaga untuk membeli buku, majalah, dan lain-lain ke toko-toko yang permodalannya asli milik bangsa sendiri, atau lebih baik beli majalah atau buku-buku di kios-kios majalah tepi jalan.
- Berjuang sekuat tenaga untuk mengkonsumsi makanan di restoran-restoran yang permodalannya milik bangsa sendiri, atau waralaba dari bisnis bangsa sendiri.
- Berjuang sekuat tenaga untuk bepergian ke luar negeri seperlunya saja. Bila terpaksa harus bepergian ke luar negeri, usahakan untuk sehemat mungkin. Atau sekalian saja bekerja di luar negeri.

Sedikit hal di atas mudah-mudahan bisa menurunkan pengurangan devisa negara kita.

Nah, sekarang pertanyaannya, apa sih untungnya berusaha agar devisa tidak berkurang ?
Jawaban saya serahkan kepada Anda masing-masing.


Wednesday, May 14, 2008

Peremajaan Armada dan Pentiketan Berbasis IT

Kemarin, 13 Mei 2008, lagi-lagi saya harus ke Jakarta. Dan lagi-lagi saya harus berkunjung ke bandara Soekarno-Hatta. Yang tentu saja, lagi-lagi saya harus memanfaatkan jasa bus damri sebagai transport favorit untuk mengantarkan menuju ke tengah kota. Tentu saja alasan utama adalah karena harganya yang relatif murah. Dan seperti biasa, bila posisi di belakang supir kosong, maka saya akan memilih tempat itu. Demikian juga dengan kemarin.

Nah, baru saja saya duduk, maka saya disuguhi dengan pengumuman yang ditempelkan di kaca pemisah antara supir dan penumpang. Pengumuman yang menginformasikan tentang kenaikan tarif dari 15 ribu menjadi 20 ribu rupiah. Saya tidak berminat dengan issue kenaikan tarif itu sendiri. Saya jelas lebih berminat untuk mengamati alasan kenaikan harga tersebut.

Untuk peremajaan anggaran dan pentiketan berbasis IT.

Saya perhatikan, bus yang saya naiki yang kebetulan memiliki rute Bandara - Blom M, bukan tergolong bus baru. Selanjutnya saya perhatikan alasan berikutnya. Pentiketan berbasis IT. Mana ya yang dimaksud dengan layanan itu. Saya perhatikan di dashboard bus tersebut, yang terlihat adalah karcis kertas seperti yang biasanya itu.

Tidak tahan dibuatnya, terpaksa saya harus bertanya ke kondektur bus yang kebetulan saat itu sedang berdiri dekat dengan saya.

Salim (S) : Pak, pentiketan berbasis IT ini maksudnya apa ya ?
Kondektur (K) : Kita menggunakan sistem sensor pak
S : Sistem sensor gimana pak ?
K : Ya sensor, secara otomatis
S : Lha itu kok masih pake karcis kertas ?
K : Iya pak baru diujicoba di beberapa armada
S : Lho baru uji coba, kok tarif udah naik duluan. Apalagi belum semua armada melakukannya. Berarti kita dipaksa untuk bayar sesuatu yang belum bisa dinikmati dong pak ...

Kondektur langsung diam, mengalihkan perhatian. Dan tidak memperdulikan saya lagi tanpa pamit terlebih dahulu. Tipikal orang yang kehabisan ide untuk meladeni orang yang usil tanya macem-macem. Padahal saya belum sempat bertanya tentang yang dimaksud dengan peremajaan armada itu apa.

Dongkol ... terbawa hingga beberapa lama. Baru saja rasa dongkol berkurang, tiba-tiba bus menepi. Saya lihat ada bus damri lain dengan rute sejenis yang nampaknya sedang bermasalah. Para penumpangnya berkerumun di sekitar bus tersebut. Wah, pasti penumpang sebanyak itu pada mau diangkut dengan bus ini nih. Lantas saya mencoba berdiri dan menengok ke belakang. Lha ternyata bus yang saya tumpangi penuh terisi penumpang.

Benar saja, penumpang yang semula naik bus bermasalah itu akhirnya diangkut oleh bus yang saya naiki. Dan bisa ditebak, bus menjadi sesak. Bahkan, baris kursi yang saya duduki yang seharusnya berkapasitas 2 penumpang, harus terisi dengan 3 penumpang. Sebenarnya saya berniat untuk berdiri dan memberikan tempat duduk saya ke bapak-bapak tua. Tapi niat baik tersebut saya batalkan, karena posisi duduk saya sudah terlanjur kepepet dan susah untuk bergerak.

Selidik punya selidik, ternyata per bus bermasalah tersebut patah, dan bus sempat oleng hingga bagian sisi kiri sempat terangkat beberapa saat. Ibu-ibu yang duduk disamping saya malah sudah pasrah bila bus yang ditumpanginya harus terguling.

Wowwwww .....

Perlu diketahui, jika pesawat yang saya tumpangi tidak delay hingga 20 menit. Bisa jadi bus bermasalah itulah yang akan saya tumpangi. Hikmah dibalik ke-delay-an. Hehehe.

Langsung pikiran saya kembali ke masalah peremajaan armada yang dijadikan sebagai alasan kenaikan tarif. Lha wong kayak gini lho, kok sudah berani-beraninya menaikkan tarif.

Mbak-mbak yang harus berbagi kursi dengan saya dan ibu-ibu tadi, langsung komentar. Transportasi Indonesia gitu lho, apapun bisa terjadi. Lho..lho..lho, rupanya mbak ini penggemar F1 juga ya, kok motto F1 disebut-sebut sih mbak.

Monday, January 14, 2008

Pak Harto ... Sakitnya Sudah Makin Serius

Yang tidak ngerti siapa yang sedang ingin saya bicarakan ini pasti sudah kebangetan sekali. Pak Harto adalah sosok yang sempat menguasai negeri ini selama 32 tahun. Sudah banyak pembangunan yang dilakukannya, juga sudah banyak uang negara yang mengalir ke kroni-kroninya (walau untuk membuktikan sulit sekali, apalagi di negara ini tidak mengenal pembuktian terbalik).

Kini Pak Harto sedang benar-benar kritis. Sudah seminggu lebih RSPP lantai 5 menjadi rumah Pak Harto. Sudah jutaan orang di negeri ini yang berdoa untuk kesembuhannya. Dan saya adalah salah satu orang yang berdoa untuk kesembuhannya tersebut.

Anehnya, bukannya makin baik, kondisinya justru makin menghawatirkan.

Menurut saya, Pak Harto saat ini sedang menjalani proses pencucian diri sebelum akhirnya berpulang ke Yang Kuasa dalam keadaan khusnul khotimah. Semakin banyak orang berdoa, maka sakitnya akan makin parah. Salah satu hikmah dari sakit adalah Allah mengangkat derajat orang tersebut. Baik di dunia, maupun di akhirat kelak.

Ada banyak alasan bagi saya untuk menyatakan Pak Harto adalah tokoh yang membuat Indonesia menjadi seperti sekarang. Negara yang aparatnya sudah menganggap korupsi sebagai sebuah keniscayaan. Bayangkan bila orang seperti Pak Harto itu tiba-tiba meninggal dunia ketika dalam keadaan sehat. Waduh ...

Dengan sakit yang semakin parah ini, mudah-mudahan dosa-dosanya selama ini dapat terampuni, mudah-mudahan orang-orang yang teraniyaya oleh tingkah polah mantan presiden kita itu dapat memaafkan dosa-dosanya. Sehingga Pak Harto dapat berpulang dalam keadaan khusnul khotimah. Amiiinnn ...

Nah, kalau sudah begini, apakah Pak Harto masih harus mengembalikan uang negara yang sudah masuk ke kas pribadi ? Silahkan tanya sendiri pada rumput yang bergoyang ...

Saturday, December 15, 2007

Pemerintah, Karbon, Dan Paperless

"Pak, siapkan laporan administrasi pekerjaan proyek sebanyak 5 bendel",demikian pinta seorang pegawai Pemda yang mempercayakan proyek IT-nya kepada perusahaan kami.

Berkas laporan setebal 200 halaman, harus di print, kemudian di copy sebanyak 5 kali. Untuk selanjutnya digunakan sebagai kelengkapan syarat-syarat administrasi. Yang ujung-ujungnya tidak akan digunakan, alias hanya akan menjadi salah satu penghuni gudang arsip.

Berarti ada1000 lembar kertas terbuang percuma. Itu hanya dari 1 proyek. Bayangkan bila dalam 1 tahun ada 500 proyek. Kalikan pula dengan jumlah pemda tingkat II di Indonesia.

Setelah itu, bayangkan berapa banyak POHON di HUTAN harus ditebang untuk memenuhinya.

Hutan sebagai salah satu ornamen penting bumi ini sebagai penetralisir karbon yang dihasilkan oleh negara-negara di belahan bumi ini. Khususnya negara-negara industri, seperti Amerika, Eropa, Jepang, China, Taiwan, dan masih banyak negara lainnya.

Apa jadi nya bila hutan-hutan tersebut harus terbuang percuma hanya untuk memenuhi aturan pemerintah tentang berkas-berkas administrasi.

Andai saja pemerintah mau membuka hati, dan segera menerapkan konsep PAPERLESS di sebagian besar aktivitas administrasinya, tentu saja akan sangat membantu menjaga agar pohon-pohon tidak terlalu banyak ditebang. Tapi kapan hal ini akan segera terealisasi ?

Tuesday, December 04, 2007

Terhipnotis Lagu

Banyak lagu yang mampu membuat kita tertawa, menangis, bahkan melamun ketika lagu itu diperdengarkan. Bisa jadi karena liriknya yang gue banget. Bisa juga karena moment lagu itu diperkenalkan bertepatan dengan moment yang tak terlupakan. Atau bisa juga karena someone special kita, seneng dengan lagu tersebut. Macam-macam lah alasannya.

Salah satu lagu yang sering memaksa air mata saya keluar adalah lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada.

Terlepas dari bagaimana Dhani Ahmad, lagu ini selalu saja membuatku merenung. Sebenarnya untuk apakah aku hidup. Untuk menuju surga ? Atau untuk mendapatkan ridho Allah ?

Bagaimana dengan para pembaca budiman ?

Sunday, November 11, 2007

Kobaran Semangat Ala Bung TOMO

Peperangan yang menyebabkan terbunuhnya Brigader Jendral Mallaby, terjadi hingga tanggal 20 Oktober 1945. Setelah itu terjadi proses gencatan senjata. Dan proses damai ini ditandai dengan kedatangan Presiden Soekarno ke Surabaya waktu itu.

Namun, ternyata pada saat damai itu, justru Inggris mengumpulkan pasukan darat, laut, dan udara untuk menguasai Surabaya. Klimaksnya terjadi tatkala perwakilan pejuang Surabaya dijebak dan ditahan ketika diundang untuk perundingan. Rakyat Surabaya tentu sangat marah dan merasa ditipu habis-habisan.

Kejadian inilah yang akhirnya membuat Bung Tomo kehilangan kesabaran. Pidatonya yang disiarkan oleh RRI Surabaya benar-benar membakar semangat juang. Bahkan saya yang hanya mendengar rekaman pidato itu saja sampai harus bergetar dan air mata tanpa sadar mengalir membasahi pipi.

Sangat berbeda sekali dengan pidato orang-orang partai politik, yang bisanya cuma membakar emosi.

Satu hal yang patut disayangkan adalah hingga kini Bung Tomo belum juga diakui sebagai pahlawan nasional.

Kok Cuman 3 Bulan ?

Bila kita datang ke Gedung Balai Pemuda, Surabaya. Kita akan menemukan sebuah pancuran yang di tengahnya dibangun sebuah statue yang terdapat tulisan sebagai berikut :

Tulisan itu adalah :
Di jaman Belanda, Gedung ini dipakai klab orang kulit putih. Orang Pribumi dan Anjing dilarang masuk. Dari bulan September - November 1945 di jadikan markas besar PRI (Pemuda Republik Indonesia). Pusat perlawanan pemuda Indonesia terhadap pasukan Inggris/Sekutu yang mencengangkan dunia.

Nah, ada satu hal yang mengganjal pikiran saya selama ini. Mengapa gedung ini hanya menjadi markas selama 3 bulan saja ? Jawaban yang terlintas adalah mungkin karena perang di Surabaya sudah usai, sehingga gedung ini dialihfungsikan untuk kepentingan lain.

Ternyata, baru tahu saya mengapa hal tersebut bisa terjadi. Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia memang sudah merdeka. Namun rakyat Surabaya sendiri menyatakan merdeka di bawah Republik Indonesia adalah pada 3 September 1945. Sejak itu pulalah gedung ini dikuasai oleh rakyat Surabaya dan digunakan sebagai markas PRI.

Namun setelah perang 10 Nopember 1945 yang berlangsung selama 21 hari, Inggris berhasil kembali menduduki Surabaya. Dan sejak itu, gedung ini akhirnya jatuh pula ke tangan Inggris.

Adapun tentang kesalahpahaman saya tersebut, sangat berhubungan erat dengan kesalahpahaman saya tentang peristiwa 10 Nopember 1945 itu sendiri.

Saturday, November 10, 2007

Salah Paham Saya Tentang Peristiwa 10 Nopember

10 Nopember 1945, terjadi perang besar di Surabaya. Antara pejuang arek-arek Suroboyo melawan tentara Inggris. Sebuah perang terbesar yang dialami pasukan Inggris di ASIA.

Sejak itu 10 Nopember, selalu diperingati sebagai hari Pahlawan. Sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan di seluruh tanah air, khususnya terhadap pahlawan yang berjuang hingga titik darah penghabisan di Surabaya.

Namun, ternyata ada beberapa salah paham saya selama ini yang harus segera saya betulkan sendiri. Sehingga saya menyampaikan maaf kepada guru sejarah saya yang mungkin pada saat mengajar kurang saya perhatikan.

Kesalahpahaman tersebut antara lain :

Perobekan bendera biru yang dikibarkan Belanda di Hotel Oranje (sekarang Hotel Majapahit) terjadi pada saat pertempuran 10 Nopember 1945

ternyata

Perobekan itu terjadi pada tanggal 19 September 1945. Ketika itu orang-orang Belanda mengibarkan kembali bendera Merah Putih Biru, yang membuat rakyat Surabaya tidak terima, dan segera merobek warna biru dari bendera itu. Perobekan itu diwarnai dengan pertempuran di sekitar hotel tersebut.

---

Jendral Mallaby tewas pada saat pertempuran 10 Nopember 1945

ternyata

Jendral Mallaby tewas pada tanggal 30 Oktober 1945, saat pertempuran beberapa hari setelah tentara Sekutu mendarat di Surabaya. Justru karena kematian inilah yang akhirnya menyulut amarah dan rasa malu dari pasukan Inggris, sehingga terjadi perang 10 Nopember 1945. Karena konon kabarnya dia adalah satu-satunya Jendral Inggris yang mati pada perang dunia kedua. Dan itu terjadi di Surabaya.

---

Pada pertempuran 10 Nopember 1945, pasukan berserta rakyat Surabaya berhasil memenangkan pertempuran setelah berjuang sekuat tenaga dan memakan korban hingga puluhan ribu pejuang.

ternyata

Walau akhirnya Inggris tidak mampu memenuhi janjinya untuk menguasai Surabaya selama 3 hari, namun perang yang berlangsung selama 21 hari itu akhirnya tetap dimenangkan oleh pasukan Inggris dengan segala peralatan tempurnya setelah harus kehilangan ribuan serdadunya. Pada akhirnya dunia justru mengutuk Inggris atas peperangan tersebut.

Sunday, October 28, 2007

Nyolong 20 Miliar Kok Nggak Mau Dibilang Maling

Akhirnya usaha Kejari Sidoarjo selama 3 bulan berhasil menemukan M. Imron Syukur, narapidaha terhukum 1 tahun penjara untuk kasus KORUPSI DPRD Sidoarjo 1999-2004, yang kasasinya ditolak oleh Mahkamah Agung.

Legislator PARTAI GOLKAR tersebut ditangkap di rumah saudaranya hari Jumat (26/10/2007) sekitar pukul 14.30, dengan kondisi mengenaskan. Hanya menggunakan kaos oblong dan menggunakan sarung. Petugas berhasil menemukan persembunyiannya di sebuah kamar kosong di balik sebuah kasur. Kamar itu sendiri diakui oleh pemilik rumah sudah lama tidak digunakan dan kuncinya di bawah pembantunya pulang mudik.

Komentar :
Aneh-aneh saja, pembantu mudik kok bawa-bawa kunci kamar majikannya. Nggak masuk akal deh.

Proses penangkapannya pun terbilang cukup alot. Petugas harus dihadapkan pada perdebatan panjang dengan keluarga dan penasehat hukumnya. Penasehat hukumnya sendiri berusaha menyalahkan petugas yang menggeledah tanpa surat geledah. Namun dengan sigap petugas menyangkal keberatan tersebut :
"Kami memang tidak sedang menggeledah. Kami mencari orang yang melarikan diri dari upaya eksekusi kejari. Jadi, tidak perlu surat penggeledahan."

Pihak keluarga sangat keberatan untuk menyerahkan Imron. Bahkan anak sulungnya, Ritho Udin Himawan, dengan berani berjanji yang saya yakin tidak akan bisa ditepatinya, seperti ini :
"Apa-apaan ini, tidak ada izin kok menggeledah. Sudahlah, dibubarkan saja. Saya janji, kalau ayah saya ada, akan saya serahkan,"

Komentar :
Keluarga memang begitu itu. Walau tahu salah, pasti tetap akan dibela. Jarang sekali ada keluarga yang bersedia mengatakan salah ketika anggota keluarganya memang bersalah.
Jadi ingat Sayyidina Umar yang dengan lantang berkata :
"Kalau ada salah satu Umar (maksudnya anaknya) yang mencuri, maka aku sendiri yang akan memotong tangannya".

Untuk Ritho, bagaimana mungkin bisa menepati janji. Lha wong sudah tahu ayahnya ada di rumah sebelah saja masih mengaku tidak ada. Bagaimana mungkin Rith, kamu mau menyerahkan ayahmu. Belain ayah sih wajar-wajar saja. Tapi tahu dirilah, ayahmu itu sudah terpidana. Dan hukuman sudah diputuskan.

Untuk penasehat hukumnya (pengacara), dalam hati saya hanya bisa berdoa, mudah-mudahan tidak ada salah satu anggota keluargaku yang berkeinginan bekerja menjadi pengacara kalau nantinya hanya membela yang membayar. Dia tentu sudah tahu kalau clientnya terhukum, mengapa masih berusaha membela. Benar apa kata rasulullah, pekerja hukum (Hakim dan Pengacara) sebelah kakinya menginjak surga, sementara sebelah lainnya menginjak neraka.

Ketika Imron berhasil ditemukan setelah mendapatkan bantuan dari petugas Kepolisian, dan melakukan koordinasi secara efektif.

Ketika digelandang keluar dari kamar, salah seorang perempuan kecil mengatakan :
"Itu bagaimana sih, nangkap kok nggak sopan. Pak Imron itu bukan maling."

Komentar :
Waduh, Nduk. Kayaknya kamu ini sudah salah belajar. Lha wong sudah terbukti mencuri uang negara 20 miliar kok dibilang bukan maling. Tahu gak nduk, KORUPTOR ITU JAUH LEBIH MALING dari pada MALING MOTOR yang kalau tertangkap langsung digebukin warga sampai tewas mengenaskan.

Ketika akan dibawa ke Lapas Delta, aparat pun masih berkenan memberikan kesempatan Imron untuk berganti pakaian lebih rapi. Dan akhirnya Imron pun menggunakan baju koko warna krem dengan setelan celana pantalon warna hitam.

Komentar :
Klise cak. Koruptor itu kalau sedang bermasalah atau ketangkep, selalu berusaha menampilkan suasana Islami di hadapan publik. Apa gunanya menggunakan busana islami (eh .. baju koko itu busana islami nggak sih ???), kalau hatinya BAJINGAN. Sudah banyak kok di tv para terdakwa korupsi yang berusaha menunjukkan keluarganya yang islami, rajin sholat, menggunakan peci, kalau berdoa tampak khusu', istri dan anak perempuannya berjilbab. Lha apa gunanya semua itu kalau tidak mampu membekas di hati. Kalau akhirnya harus nyamber semua, nggak perduli itu bukan haknya sekalipun.
Untung masih diberi kesempatan menggunakan pakaian lebih rapi. Coba kalau maling ayam, atau maling motor, waduh ... cara nggelandangnya saya sudah tidak manusiawi. Bahkan sebagian besar dari mereka sudah tidak berbentuk mukanya karena habis dihajar oleh masa.

Sumber : Jawapos.com, Sabtu 27 Okt 2007

Thursday, October 25, 2007

Koran ... Koran ....

Pagi ini tadi, sambil nyeruput kopi susu anget bikinan istri, asyik baca-baca koran JawaPos dari internet.

IMHO, sudah lama sekali saya tidak berlangganan koran tersebut. Seingat saya, terakhir saya berlangganan JawaPos adalah ketika masih nge-kost di Mojoklangru dan itu pun ditanggung rame-rame oleh teman-teman satu kost-kostan.

Saya hampir tidak pernah membeli JawaPos lagi begitu JawaPos sudah menayangkan semua berita hari ini di internet. Hampir semua content berita ada semua. Sesekali saya masih harus membeli koran tersebut, misalnya ketika saya sedang membutuhkan iklan-iklannya yang berjargon "Wah Sudah Laku".

Nah, sejak JawaPos berani menayangkan versi pdf dari harian tersebut, praktis saya tidak perlu membeli koran itu lagi. Satu-satunya alasan yang masih membuat saya membelinya adalah sebagai teman perjalanan ketika saya harus melakukan perjalanan luar kota, baik menggunakan bis, kereta api, atau pesawat terbang.

Kembali ke kejadian tadi pagi. Ketika saya sedang mencari-cari iklan rumah dan tanah dari versi pdf-nya JawaPos, dari depan rumah saya, terdengar suara lantang anak kecil bersepeda yang menjajakan koran. Tentunya yang dijajakan salah satunya adalah JawaPos.

Dalam hati langsung berfikir, bagaimana nasib mereka kelak, ketika semua koran sudah mulai memanfaatkan media internet. Dan semua pembaca sudah mulai gemar membaca koran melalui internet. Ah ... mungkin sebuah pemikiran yang terlalu pesimistis dan sedikit cengeng. Saya yakin mereka jauh lebih siap menerima kenyataan itu dari apa yang saya bayangkan.

Wednesday, October 10, 2007

Rasa Sayange Seharusnya Memang Milik Kita

Indonesia protes,
bangsanya bereaksi ...
ada yang marah, ada yang emosional, ada yang misuh-misuh, ada yang berusaha menyikapi secara bijaksana ...

Tak lain dan tak bukan adalah karena kasus lagu Rasa Sayange yang digunakan oleh Malaysia.

Rasanya sungguh keterlaluan negara sebelah itu, sudah banyak yang diambil alih dari kekayaan kita. Baik itu pulau, kayu, budaya, dan lain-lain ...

Namun ternyata kita cuman bisa bereaksi, sebagaimana yang sudah terjadi sebelumnya. Susah sekali rasanya kita berlaku seperti pepatah "Sedia payung sebelum hujan". Yang ada, sudah basah kehujanan baru bingung mencari payung.

Indonesia protes,
namun Malaysia cuma menjawab singkat, BUKTIKAN JIKA RASA SAYANGE ITU ADALAH MILIK INDONESIA ...

Usaha pun dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Salah satunya seperti yang ditulis di sini.