Showing posts with label Travelling. Show all posts
Showing posts with label Travelling. Show all posts

Wednesday, January 13, 2010

Lho, Katanya Tanpa Biaya Administrasi ???

Salah satu promo yang digembar-gemborkan oleh AIRASIA adalah :
TANPA BIAYA ADMINISTRASI, TANPA FUEL SURCHARGE untuk SEMUA DESTINASI.

Seperti capture berikut ini :




Nah, ternyata eh ternyata ...
Ada yang namanya Convenience Fee. Dan itu berlaku sejak 2 Nopember 2009. Kalau bukan namanya biaya administrasi lantas apa ya itu ?

Berikut ini dalih yang diberikan oleh Air Asia :



Nah, sekarang silahkan disimpulkan sendiri. Sebenarnya biaya sebesar 15rb itu termasuk biaya administrasi atau bukan ?

Yang saya tidak habis pikir, mengapa mereka mengaku investasi sistem, tapi ujung-ujungnya meminta bantuan subsidi dari pelanggannya ? Bukankah dengan semakin mudahnya proses pembelian tiket, membuat makin banyak pelanggan yang bersedia menggunakan AirAsia ?

Atau mungkin karena layanan pembelian online sekarang sudah menjadi standar bagi semua maskapai (kecuali maskapai kampungan aja mungkin yang belum punya sistem layanan pembelian online), sehingga proses perebutan "kue" kembali ke masalah harga. Semakin murah harganya, maka semakin banyak diminati.

Akhirnya, tetap saja bagi saya biaya 15rb ini tak ubahnya apa yang dilakukan toko-toko yang menggunakan EDC untuk proses pembayaran credit card, tapi masih minta tambahan fee sebesar 3% dari transaksi.

Tuesday, November 24, 2009

Melayang Di Udara Menggunakan Bus Terbang

Sudah biasa terbang ? Maaf, maksud saya sudah biasa menggunakan moda transportasi pesawat terbang ?

Kemungkinan besar semua yang membaca tulisan saya ini akan mengatakan sudah. Wajar saja karena memanfaatkan layanan maskapai penerbangan sudah menjadi hal lumrah bagi sebagian kalangan masyarakat di Indonesia. Tentu saja fenomena ini tidak terlepas oleh gebrakan adam air yang memberikan tarif terbang bahkan lebih murah dari menggunakan kereta api.

Selain itu, bentuk kepulauan negara ini, tentu akan lebih efektif menggunakan moda pesawat terbang bila dibandingkan dengan menggunakan moda laut.

Namun bila pertanyaan dikerucutkan.
Pernahkan mengangkasa dengan menggunakan bus terbang ? Maksudnya pesawat terbang yang hanya sebesar bus. Yang bisa menjawab sudah tentu hanya yang mengakses kawasan yang terletak di daerah terpencil di seantero nusantara ini.

Bagi orang-orang seperti ini, mereka akan bisa menggunakan pesawat terbang yang sebesar bus. Menggunakan baling-baling. Yang ketika mengangkasa setelah take off seakan-akan maju enggan mundur tak mau.



Coba deh perhatikan ukuran pesawatnya, dan bayangkan sendiri ketika pesawat itu mengangkut Anda.

Monday, October 22, 2007

Taman Bungkul di Minggu Pagi

Taman bungkul hingga minggu pagi ini, masih saja banyak dikunjungi oleh masyarakat. Taman ini terletak di jalan Darmo Surabaya.

Ada yang bermain-main sepak bola.



Air mancurnya walau tidak tinggi, namun cukup menyegarkan.



Taman bermain untuk anak, banyak digemari oleh masyarakat yang datang dengan mengajak anak-anaknya. Bahkan hingga yang masih balita juga ada.




Walaupun sudah ada larangan untuk PKL, ternyata itu bukan masalah berarti bagi PKL. Mereka tetap enjoy menjajakan barang dagangannya di dalam area Taman Bungkul. Bahkan berada di area untuk pejalan kaki. Kebanyakan mereka berdagang makanan ringan dan mainan anak-anak dan berpusat di sekitar area untuk bermain anak-anak.



Telepon umum mungkin mulai ditinggalkan, namun Taman Bungkul tetap saja menyediakan fasilitas tersebut bagi yang membutuhkan.



Taman Bungkul serasa lebih lengkap dengan keberadaan area extreme ...



Sebagai layaknya sarana untuk umum, di sini juga terdapat pos jaga, dengan penjaga yang aktif siap membantu memberikan layanan. Sayangnya ketika mencoba mengelilingi kawasan ini, saya tidak menemukan satu pun petugas penjaga yang berpatroli. Satu-satunya petugas yang nampak, hanya yang sedang bertugas di pos jaga saja.

Tuesday, July 24, 2007

Monumen Di Surabaya

Beberapa monumen/patung/statue yang ada di Surabaya antara lain sebagai berikut :
  1. Monumen Bahari
  2. Monumen Bambu Runcing, Jl. Panglima Sudirman
  3. Monumen Gubernur Suryo, Depan Grahadi
  4. Monumen Jalesveva Jayamahe, Pelabuhan
  5. Monumen Jendral Sudirman, Jl. Yos Sudarso
  6. Monumen Joko Dolog, Taman Apsari
  7. Monumen Kapal Selam (MonKaSel), Dekat Plasa Surabaya
  8. Monumen Karapan Sapi, Belokan dari Panglima Sudirman arah Basuki Rahmat
  9. Monumen Komodor Yos Sudarso
  10. Monumen Mayangkara, Bawah Layang Mayangkara
  11. Monumen Ronggo Lawe, Dekat Joyoboyo
  12. Monumen Suro dan Boyo, Depan Kebun Binatang
  13. Monumen Tugu Pahlawan

Sunday, June 24, 2007

Samarinda, Lampu Mati, dan Kebakaran

Tak banyak kota-kota di luar pulau Jawa yang saya singgahi. Diantaranya, ada kota Samarinda. Berkaitan dengan kendala suplai listrik dari PLN untuk daerah di pulau-pulau selain Jawa, demikian pula dengan Samarinda. Lampu mati harus digilir oleh PLN. Sehingga tak jarang lampu mati ibarat puasa nabi Daud. Sehari menyala, sehari berikutnya mati.

Tentu saja hal ini sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Bahkan untuk warga atau kantor-kantor yang telah menjadikan genset sebagai salah satu kebutuhan wajib. Ironisnya, beberapa hotel melati yang ada di sana, juga turut bermasalah gara-gara tidak sanggup menyediakan listrik cadangan ketika mendapat giliran mati lampu.

Walau sama-sama hotel melati, namun perubahan menjadi tampak jelas antara hotel yang sanggup mensuplai listrik dengan yang tidak mampu. Hotel yang mampu membuat AC tetap menyala ketika lampu mati, selalu dipenuhi oleh pengunjung. Sementara hotel yang hanya mampu membuat lampu menyala mulai sepi. Apalagi hotel yang tidak mempunyai support genset sama sekali. Walau ruang yang ditawarkan lebih bersih, lebih besar, namun hanya mampu mematok harga tidak lebih dari 100 ribu.

Di sisi lain, kendala seringnya mati lampu ini, ternyata telah turut andil sebagai penyebab kebakaran yang sering kali terjadi di Samarinda. Memang tidak secara langsung. Misalnya karena lilin yang terguling karena ditinggal tidur, atau petromax yang meleduk, atau hubungan singkat yang terjadi karena pengaturan jalur kabel yang amburadul. Membuat kawasan-kawasan yang didominasi rumah-rumah kayu menjadi lahan empuk untuk lokasi kebakaran.

Bersyukurlah saya sebagai warga yang tinggal di Surabaya. Karena bisa dikatakan hampir tidak ada acara lampu mati. Semoga kita bisa semakin berhemat terhadap penggunaan listrik. Seperti moto PLN, yang penting matikan yang nggak penting.

Monday, October 02, 2006

Nuansa Tarawih Ramadhan 1427H di Masjid-Masjid Surabaya

Safari Masjid, demikian banyak orang mengatakannya. Walau tidak secara teratur setiap malam, dan tentu saya tidak setiap tahun, namun kebiasaan ini sudah aku lakukan sejak beberapa tahun yang lalu. Sederhananya, setiap malam untuk menjalankan shalat tarawih, saya mendatangi masjid-masjid yang berbeda yang ada di kota yang saya tinggali ketika Ramadhan ini. Tahun lalu, saya melakukannya dengan mendatangi beberapa masjid yang ada di kota Sorong - Papua.

Ramadhan 1427H kali ini, saya memulai safari masjid pada malam ramadhan yang kedua. Berikut ini adalah uraian safari ramadhan malam demi malam.

Malam #02, Masjid Muhajirin KotaMadya Surabaya
Masjid ini merupakan masjid yang berdiri di area Balai Kota Surabaya. Dan memang merupakan masjid milik Pemkot Surabaya yang juga dimanfaatkan oleh masyarakat umum. Masjid ini terletak di Jl. Jimerto 25-27 Surabaya. Jamaah yang datang masih sangat ramai. Masjid kelihatan sangat penuh.

Tarawih di Masjid ini menggunakan aturan 8 rakaat, dilanjutkan dengan ceramah dan diakhiri dengan witir (2 + 1 rakaat). Ceramah yang disampaikan berisi tentang pentingnya tidak sekedar menahan lapar dan haus saja ketika berpuasa. Namun juga menjaga diri untuk senantiasa meningkatkan amal ibadah dan menjauhi segala bentuk pekerjaan yang dilarang. Hal ini bertujuan agar dalam menjalankan puasa, kita mampu mencapai target yang telah digariskan oleh Allah. Target tersebut adalah Laallakum tattaquun (supaya kamu menjadi orang yang bertaqwa).

Pada Masjid ini, jamaah putra diletakkan di lantai 1, sementara jamaah putri diletakkan di lantai 2. Dahulu, sebelum mengalami renovasi, jamaah putra diletakkan di lantai 2, sementara jamaah putri diletakkan di lantai 3.

Malam #03, Masjid ITS Surabaya
Masjid ITS berada di dalam kawasan kampus ITS, Sukolilo - Surabaya. Saya kurang tahu persis kapan berdirinya.

Setelah shalat Isya' berjama'ah, diadakan ceramah yang kebetulan malam itu dibawakan oleh Rektor ITS, pak M. Nuh. Dilanjutkan dengan shalat Tarawih 8 rakaat, dan diakhiri dengan witir (3 rakaat). Yang menjadi imam sholat berjamaah ini, adalah imam yang sama semenjak saya pertama kali masuk ITS, tahun 1995. Sayangnya, saya tidak tahu namanya. (Ternyata namanya adalah Imam Maksum. Ini berdasarkan informasi dari Rekan Fahmi, yang telah mengunjungi blog ini)

Jamaah putra mengisi hampir semua area ruang utama masjid. Ketika saya toleh ke belakang, rupanya shaft yang kosong hanya tersisa 2 shaft saja. Sementara jamaan putri, berada para area belakang masjid, dan sebagian pada lantai 2.

Oh ya, hampir lupa. Masjid ini bernama Masjid Manarul Ilmi. Masjid yang saat saya shalat berjamaah itu, sedang mengalami renovasi perluasan pada area sebelah kiri masjid. Area yang berada antara masjid, dan ruang wudhu.

Satu hal lagi yang masih tetap ada, yaitu adanya tempat wudhu darurat yang berbentuk dingklik'an yang di atasnya terdapat beberapa timba cor yang dilubangi. Untuk menggunakannya jamaah harus menimba pada kolam tandon. Walau saat itu jamaah yang datang masih sepi, dan ruang wudhu masih relatif kosong, saya justru bernostalgia dengan berwudhu di tempat wudhu darurat tersebut.

Malam #06, Masjid UNAIR Surabaya
Seharusnya saya merencanakan malam ini untuk shalat Tarawih di Masjid Al-Falah, Raya Darmo. Namun karena beberapa kesibukan, membuat saya tidak memiliki waktu yang cukup untuk perjalanan menuju masjid tersebut.

Akhirnya pilihan jatuh ke Masjid UNAIR Surabaya. Masjid ini berada di dalam kawasan kampus B UNAIR, Jl. Dharmawangsa - Surabaya. Ketika saya datang, terlihat sudah banyak jamaah putri memadati area sebelah kiri masjid. Sementara di area utama, tempat jamaah putra, masih terlihat banyak celah-celah kosong yang belum terisi.

Pelaksanaan Sholat Isya' diawali dengan beberapa pengumuman oleh takmir masjid. Selanjutnya Sholat Isya' berjamaah dimulai. Dilanjutkan dengan ceramah yang membahas tentang hal-hal yang dilatih dalam ibadah puasa. Yaitu Jujur serta Sabar. Sementara Sabar sendiri dibagi lagi menjadi sabar ketika beribadah, sabar dari perbuatan tercela, serta sabar ketika ditimpa musibah.

Kemudian, dilanjutkan dengan Shalat Tarawih 8 rakaat yang ditutup dengan Witir 3 rakaat. Urut-urutan yang sama seperti yang dilaksanakan di Masjid Manarul Ilmi ITS.

Malam #09, Masjid Al-Falah Surabaya
Akhirnya kesampaian juga untuk menjalankan shalat Tarawih berjamaan di Masjid Al-Falah Surabaya. Masjid ini terletak di Jalan Darmo, tepatnya di seberang Kebun Binatang Surabaya.

Sengaja saya datang lebih awal, untuk melihat situasi menjelang berlangsungnya sholat berjamaah. Parkir motor sudah mulai banyak terisi, sementara parkir mobil sudah mulai terlihat berbaris di Jl. Darmo. Dan beberapa terdapat di sebelah kanan masjid (jalan apa ya namanya ?).

Kemudian datanglah waktu Adzan. Antrian wudhu sudah mulai terlihat ramai. Wudhu di masjid ini memang sangat menyenangkan, karena airnya yang cukup deras dan segar.

Jamaah mulai menempati barisan shaft untuk mendengarkan ceramah. Ya, memang di masjid ini ternyata ceramah agama diberikan sebelum sholat Isya'. Ceramah kali ini dibawakan oleh seorang dokter. DR. Dr. HM. Yunus, Sp. RM. Nama yang saya ketahui dari selebaran yang dibagikan.

Sebagai dokter, ternyata materi yang dibawakan tidak lain adalah masalah kesehatan. Disampaikan bahwa selama satu hari, sedikitnya umat Islam berdoa meminta diberi kesehatan itu sebanyak 17 kali. Doa yang dibaca pada duduk diantara 2 sujud. Namun doa sebenarnya hanya visi dan misi. Harus ada tindak lanjut berikutnya. Sayangnya, kebanyakan dari kita, umat Islam, hanya berhenti sampai di visi dan misi itu saja. Misalnya saja, banyak umat Islam yang berdoa minta kesehatan sampai 17 kali sehari, tapi masih merokok, masih makan tanpa batasan, tidak pernah memeriksakan diri ke laboratorium dan lain sebagainya.

Setelah ceramah, sholat Isya' berjamaah pun dimulai. Dilanjutkan dengan sholat tarawih (8 rakaat) dan sholat witir (3 rakaat).

Tuesday, September 19, 2006

Ramadhan di Bumi Sorong

Ramadhan 1427 H, sebentar lagi akan segera kutemui. Walau bukan Ramadhan pertama yang kujalani setelah berstatus suami, namun ini adalah merupakan Ramadhan pertama yang akan kulalui bersama-sama dengan istriku. Memang demikian adanya. Tidak lain karena Ramadhan tahun lalu kujalani di tanah seberang. Sangat jauh dari kota kelahiranku. Otomatis sangat jauh pula dari istriku.

Kala itu, Ramadhan 1426H, seminggu sebelum Ramadhan berlangsung, untuk kepentingan sebuah pekerjaan team kami berangkat ke Sorong, Papua. Mungkin aku termasuk orang kebanyakan yang ketika mendengar kata Papua, dulu bernama Irian Jaya, langsung terbayang orang-orang berkulit hitam, berbadan kekar, rambut yang mlungker-mlungker, dan (maaf) bau badan cukup khas.

Perjalanan dimulai pada awal Oktober 2005. Rombongan berkumpul di bandara Juanda. Penerbangan menggunakan pesawat Merpati. Dengan rute Surabaya - Makasar - Manado - Sorong. Perjalanan Surabaya ke Makasar kami tempuh sekitar 1 setengah jam.

Ketika transit di Makasar, kami sempat pula dikejutkan dengan berita bom Bali II di Jimbaran, Bali. Setelah transit sebentar, hanya sekitar setengah jam, kami melanjutkan perjalanan ke Manado. Transit di Manado ternyata cukup lama. Mulai 11 WITA hingga pukul 4 WITA keesokan harinya. Dari Manado, perjalanan berlanjut ke Sorong. Sampai di Sorong sekitar pukul 6 WIT. Mungkin pada saat yang sama, orang-orang di Surabaya masih baru saja menggeliat bangun dari tidurnya, untuk menunaikan ibadah Sholat Shubuh. Memang, Sorong yang menggunakan WIT, memiliki selisih waktu dengan Surabaya yang menggunakan WIB selama 2 jam.

Heran bercampur kaget, begitu pesawat mulai landing di bandara Sorong. Kalo tidak salah nama bandara tersebut adalah Eduard Osok. Atau ... entahlah, aku sudah lupa cara mengeja nama bandara tersebut. Yang jelas, aku baru tahu jika ada bandara yang sebagian bangunannya terbuat dari papan. Sangat berbeda dengan bandara di Jakarta, Surabaya, Jogja, Denpasar, Makasar, Manado, atau Sepinggan. Benar-benar tidak seperti sebuah bandara.

Begitu tiba di bandara, kami langsung dijemput oleh tim kami yang lain, yang telah lebih dahulu merasakan Sorong. Singkat cerita kami semua menuju ke mess, yang letaknya sekitar 2 km dari bandara

Demikianlah, hari demi hari berlalu hingga akhirnya Ramadhan pun tiba. Tapi ada yang berbeda. Suasana Ramadhan seperti "biasanya" nyaris tidak tampak di sana. Apalagi mess tempat kami menginap hanya tersedia sebuah tv yang terletak di pos satpam. Suasana Ramadhan di tv pun ikut lenyap. Inilah Ramadhan pertama seumur hidupku yang kujalani di kota yang penduduk muslimnya relatif sedikit. Minoritas bahkan. Persis seperti suasana puasa Senin Kamis. Warung-warung tetap buka. Tidak ada tutup-tutup seperti di kota-kota yang pernah kutinggali sebelumnya. Di beberapa tempat, orang merokok seperti biasa. Di angkutan umum, ada juga yang mengunyah permen karet. Kejadian sejenis juga terjadi ketika berada di kawasan proyek. Waktu makan siang, sebagian karyawan makan seolah-olah hari itu bukan bulan suci Ramadhan.

Sehari, dua hari, tiga hari, hingga seminggu. Aku sudah mulai terbiasa dengan keadaan ini. Juga mulai terbiasa dengan sholat tarawih bersama beberapa rekan di mess, karena masjid selain jarang juga sangat jauh. Selama bulan Ramadhan berlangsung, mungkin dapat dihitung tidak sampai jumlah jari di kedua tangan ini.

Salah satu mesjid yang aku tempat terawih adalah masjid raya. Masjid terbesar di Sorong. Tapi jika dibandingkan dengan masjid yang ada di Surabaya, mungkin masih kalah besar dengan luas masjid Muhajirin yang berada di kawasan Balai Kota Surabaya.

Dua kali shalat Tarawih di masjid itu, aku menemukan dua suasana. Suasana pertama ketika Ramadhan baru berjalan beberapa hari. Area parkir penuh dengan mobil dan motor. Aku sekilas melihat barisan shaft hingga ke area halaman masjid. Sementara suasana kedua ketika Ramadhan sudah memasuki minggu ketiga. Kalau tidak salah hitung, jumlah shaft masjid hanya sekitar 6 baris saja. Kejadian yang persis sama dengan yang terjadi di Jawa.

Diantara hari-hari menjalani Ramadhan, sempat pula aku bertemu secara tidak sengaja dengan kang Harry Moekti, yang ngakunya sebagai mantan artis. Saat itu aku sedang menemani rekan di sana untuk menghadiri acara buka puasa bersama. Ternyata untuk kultum-nya diisi oleh kang Harry. Banyak cerita yang beliau sampaikan, termasuk tentang jalan yang dipilihnya hingga menjadi seperti yang aku lihat saat itu. Muncul juga perasaan iri bisa memiliki ghirah seperti kang Harry.

Lebaran kurang 2 hari, sampai saat itulah aku berada di sana. Pada H-1, aku baru bisa pulang ke Surabaya. Tetap menggunakan pesawat yang sama. Merpati. Namun rutenya lebih singkat, yaitu Sorong - Makasar - Surabaya. Jam 2 WIT berangkat dari Sorong, sampai di Surabaya sekitar jam 3 WIB. Hanya satu jam ? Tentu saja tidak. Sorong dan Surabaya memiliki selisih waktu 2 jam. Artinya lama perjalanan adalah sekitar 3 jam.

Sesampai di rumah, waktu sudah menjelang magrib. Buka puasa terakhir untuk Ramadhan 1426H. Hanya moment itulah yang bisa kulalui bersama dengan istri yang baru saja kunikahi. Rasanya senang sekali bisa kembali berada di tengah-tengah keluarga.

Ramadhan 1426H, mungkin menjadi salah satu Ramadhan yang akan kuabadikan kisahnya untuk aku ceritakan pada anak cucuku kelak.

Monday, September 18, 2006

Melintas Kembali di Sepanjang Tepian Mahakam


Seakan baru kemarin saja, ketika suasana sepanjang tepian kembali terbayang di pikiranku. Entah mengapa tiba-tiba hal itu bisa terjadi. Suasana yang ingin aku alami kembali suatu saat nanti.

Hembusan anginnya yang tidak terlalu kencang, menemani aku dan pengendara lainnya yang melalui jalan yang berdampingan dengan kelokan sungai mahakam. Suasana yang cukup menyenangkan. Kendaraan beriringan dengan tidak terlalu kencang menjadikan nuansa menyenangkan itu semakin kental.

Sungai Mahakam, bagi orang Jawa seperti aku, merupakan sungai yang sangat lebar. Sungai yang mampu membelah kota Samarinda menjadi 2 bagian. Kawasan di sebelah selatan sungai ini, disebut dengan Samarinda Seberang. Hal ini disebabkan karena pusat pemerintahan terdapat di sebelah utara sungai ini.

Setiap sore sepulang dari aktivitas sehari-hari, pemandangan sepanjang tepian perlahan namun pasti telah menempati tempat tertentu dalam ingatan yang mungkin akan tetap ada di sana dalam waktu yang cukup lama.

Mungkin ini yang sering disampaikan orang-orang Samarinda, bahwa orang yang pernah minum air sungai mahakam, pasti akan kembali ke sana. Percaya atau tidak, yang jelas hingga sekarang aku sudah lupa, berapa kali ke Samarinda.

Bahkan sampai malam ini, di saat jam dinding menunjukkan pukul 00.00, ingatan itu tetap membuatku untuk ingin ke sana lagi. Sekedar ingin duduk di tepi mahakam, sambil memandang ke kejauhan. Memandang ketenangan yang tercipta di sana. Subhanallah.