Bagi pemegang Credit Card, khususnya yang beberapa kali mengalami keterlambatan akut dalam membayar tagihan setiap bulannya, pasti akan merasakan hebohnya para debt collector beraksi. Naudzubillaahi min dzalik. Jangan sampai ada saudara, anak, famili saya yang mau berprofesi seperti itu.
Ini adalah kisah saya dalam
menutup credit card HSBC yang sudah 5 tahun saya miliki. Kisah ini dimulai dari ketidakberdayaan saya membayar tagihan credit card HSBC. Pembayaran terakhir adalah
Oktober 2005 yang membuat posisi tagihan saat itu menjadi tersisa hampir 2.7jt. Bulan-bulan berikutnya kondisi ekonomi saya sangat mencekam dan menghimpit. Dana proyek banyak yang tertunda dibayarkan, sementara kebutuhan sehari-hari juga semakin besar. Baik kebutuhan operasional proyek maupun kebutuhan rumah tangga. Kredit card yang lain pun juga harus tetap diopeni (selain HSBC, pada saat itu saya masih mempunyai Citibank, Danamon, dan Niaga).
Hingga bulan
Januari 2006 saya tidak membayarkan cicilan tagihan pada HSBC. Karena sudah kepalang basah. Sudah terlanjur. Dana yang ada lebih saya prioritaskan untuk mengamankan posisi credit card lainnya serta memenuhi kebutuhan pengeluaran proyek (pekerjaan) dan keluarga. Selama waktu tersebut, telepon demi telepon tagihan berdering tak kenal lelah. Pertengkaran via phone dengan debt collector pun menjadi hiasan setiap saat.
Namun setelah bulan
Januari 2006, tekanan dari pihak HSBC mulai surut, bahkan hilang sama sekali. Dalam hati selain merasakan tenang, juga muncul khawatir. Tenang karena tekanan dari HSBC sudah reda. Khawatir karena pasti berkas saya sudah dilimpahkan ke pihak ketiga.
Lama tak ada hubungan lagi dengan HSBC, hingga akhirnya pada awal bulan
Juni 2006 mulai lagi telepon dari orang berlogat (maaf) Batak yang menghubungi saya mengaku atas nama HSBC. Dia mengaku bernama Eliper. Perbincangan pun terjadi, yang intinya tentang komitmen saya menyelesaikan tagihan. Yang jelas, tagihan yang pada
Oktober 2005 hanya berkisar
2.7jt, sudah membengkak sedemikian rupa menjadi
4.180.000,00. Wow, 1jt lebih bunga berbunga plus denda yang harus saya tanggung. Akhirnya kesepakatan terjadi. Tawaran menyelesaikan tagihan selama 2 bulan, masing-masing 1.5jt per bulan, pun saya terima. Jadi totalnya menjadi 3jt. Diskon yang diberikan adalah sekitar 30%. Harus saya bayarkan pada tanggal
15 Juli dan
15 Agustus.
Saya pun berusaha mempersiapkan 1.5jt khusus untuk tanggal
15 Juli. Namun, pada
10 Juli saya dihubungi oleh orang Batak yang berbeda. Kali ini dia menawarkan diskon yang lebih menggiurkan, asalkan saya mau membayar sekaligus. Nilai yang harus saya bayarkan menjadi hanya 2.5jt saja, namun harus dibayarkan sekaligus. Saya pun tertarik dengan tawaran terbaru ini. Lumayan, 500rb selisihnya. Namun saya sadari pada
15 Juli saya belum punya tambahan 1jt, karena yang sudah saya siapkan hanya 1.5jt saja. Akhirnya saya meminta perpanjangan waktu, dan diberi kesempatan 10 hari lagi. Jadi tanggal
25 Juli saya sudah harus menyelesaikan sejumlah tersebut.
Alhamdulillah, Allah Maha Kaya. Tanpa harus menunggu lama, sekitar tanggal
20 Juli saya sudah memiliki dana yang cukup. Tidak hanya sebesar 2.5jt untuk HSBC, namun credit card lain pun berhasil saya bayar dalam jumlah yang cukup. Walau belum bisa semuanya hingga 0.
Saya pun segera menghubungi Bp. Eliper pada Sabtu
22 Juli melalui nomor yang diberikan. Saya berniat segera membayarkan secepatnya karena pada hari Minggu saya harus ke luar kota hingga Rabu. Namun jawaban pak Eliper adalah, meminta agar uang tersebut di transfer pada rekeningnya. Karena rekening yang diberikan adalah rekening pribadi di BNI, dan atas nama someone, maka saya tidak bersedia. Akhirnya pak Eliper pun berjanji bahwa dia akan segera mengambilnya.
Kenyatannya, hingga Minggu sore pak Eliper tak kunjung datang. Saya pun berencana menitipkan dana tersebut ke istri saya. Namun tidak jadi, karena istri saya takut berhadapan dengan debt collector. Takut keliru, tertipu, dan lain sebagainya. Sorenya saya tetap harus berangkat ke Jember jam 4 sore menggunakan kereta api Cantik jurusan Surabaya - Jember.
Merasa tidak nyaman, pada hari Senin, saya kembali menghubungi Bp. Eliper. Namun solusi yang diberikan tetap saja minta dana itu ditransfer ke Rekening BNI yang telah disebutkan. Saya tidak keberatan, asalkan saya diberi alamat lengkap kantornya, plus nomor teleponnya sekalian. Mendengar permintaan saya, Bp. Eliper malah marah. Menganggap saya ingin mempermainkannya, atau sekedar ingin mencari-cari alasan karena tidak bisa membayarnya. Akhirnya saya putuskan, kalau memang Bp. Eliper percaya pada saya bahwa saya bersungguh-sungguh komitmen menyelesaikannya, maka saya minta diberi waktu 1 hari lagi. Jadi Bp. Eliper bisa datang ke rumah mengambil dana pembayaran tersebut pada tanggal
26 Juli. Dan Bp. Eliper pun sepakat.
Pada
25 Juli, siang hari, tiba-tiba saya dikejutkan dengan telepon istri saya yang menceritakan terjadi kejadian yang memalukan dan menakutkan di rumah. Bp. Eliper datang beserta rekannya untuk menagih pembayaran saya. Karena dengan logat Batak yang sangat kental, ketika itu adik ipar saya pun takut membukakan pintu pagar. Sehingga pembicaraan terjadi dibatasi dengan pagar antara mereka. Bagi saya yang sudah terbiasa bergaul dengan orang Batak, mungkin merasa biasa dengan cara bicara orang Batak. Tidak demikian dengan keluarga istri saya (saat itu saya masih tinggal dengan mertua). Mereka sangat ketakutan, jangan-jangan orang-orang yang datang ini mau membikin onar. Yang jelas mertua saya khususnya, sangat malu. Karena omongan-omongan yang diucapkan oleh Bp. Eliper dan rekannya sempat terdengar oleh warga sekitar.
Mendengar cerita istri saya yang entah benar atau hanya salah paham saja, saya pun segera menghubungi Bp. Eliper. Saya tidak terima karena Bp. Eliper sudah melanggar kesepakatan yang sudah dibuat. Bukankan pada Senin hari sebelumnya, sudah ada kesepakatan Bp. Eliper mau datang pada hari Rabu. Bukan hari Selasa seperti yang dilakukannya. Mendengar omelan-omelan saya, Bp. Eliper hanya mengucapkan kata maaf, tanpa ada perasaan bersalah sama sekali.
Tanggal
26 Juli, sore hari, Bp. Eliper kembali datang. Tetap beserta rekannya yang saya ketahui bernama Bp. Toni. Bp. Toni inilah yang menerima pembayaran dan memberi tanda terima pada saya. Pada tanda terima tersebut tertulis nama Toni dan tandatangannya. Selanjutnya mereka menjanjikan akan segera mengirimkan bukti lunas secepatnya.
Hingga 2 minggu, saya belum juga mendapatkan bukti lunas yang dijanjikan. Saya pun segera menghubungi Bp. Eliper. Dia hanya bisa melakukan cross check ke petugas yang bertugas masalah administrasi.
Saya tunggu lagi hingga 3 bulan. Pada akhir
Oktober 2006 saya kembali bertanya tentang bukti lunas yang dijanjikan pada Bp. Eliper. Hal ini karena saya sedang ada masalah kecil dengan credit card yang lain, yaitu Danamon. Bp. Eliper pun hanya bisa janji ini itu tanpa ada tindak lanjut yang jelas.
Waktu berlalu, hingga
Maret 2007. Tiba-tiba saya dikejutkan oleh telepon seseorang bernama Ricky dari Jakarta yang mengaku dari HSBC. Menyampaikan bahwa
saya masih memiliki tanggungan hutang sebesar hampir 4.5jt. Waduh, bencana apa lagi ini. Tentu saja saya menyangkalnya dan menyatakan sudah menyelesaikan tagihan HSBC sejak Juli 2006. Pak Ricky pun minta diberi penjelasan,dan saya pun dengan seksama menceritakan kronologinya. Akhirnya pak Ricky hanya meminta dikirimkan bukti pembayaran yang sudah saya lakukan dahulu.
Untung saja semua bukti-bukti pembayaran hingga catatan-catatan yang diberikan oleh Bp. Eliper masih saya simpan dengan baik. Padahal nomor handphone yang diberikan, sudah tidak bisa dihubungi lagi. Bahkan nomor telepon kantor yang diberikan juga tidak bisa dihubungi. Ketika saya menelepon nomor telepon yang diberikan oleh 108 berdasarkan alamat kantor yang diberikan pada saya, ternyata yang menerima adalah orang yang sama sekali tidak paham dengan maksud saya. Waduh,
JANGAN-JANGAN SAYA DITIPU ...Saya pun segera mencoba mengirim semua bukti tersebut via fax ke pak Ricky, sambil berharap pak Ricky bisa membantu saya untuk menyelidiki kejadian yang sebenarnya. Namun karena terlalu lama, bukti pembayaran lembar berwarna kuning yang diberikan pada saya sudah mulai luntur catatannya. Pada kiriman pertama, tulisan itu sama sekali tidak tertangkap mesin fax. Sehingga yang terkirim seakan-akan blanko pembayaran HSBC dengan tulisan yang hampir tidak nampak. Itu seperti yang dilaporkan pak Ricky. Saya pun kebingungan, bagaimana ini. Bagaimana cara saya agar bisa mengirimkan buktinya. Pak Ricky memberi solusi supaya bukti itu dikirim saja via pos. Dikirim ? Nggak mungkinlah. Kalau dikirim, lantas bukti apa lagi yang saya miliki.
Akhirnya timbul ide untuk
saya fotocopy dulu sebelum saya kirimkan via fax. Alhamdulillah hasil mesin fotocopy lumayan terlihat. Semua tulisan terbaca dengan baik. Dari fotocopy itu, saya kirimkan via fax. Dan bisa diterima dengan baik oleh pak Ricky. Pak Ricky pun akan berusaha menyelesaikan permasalahan ini, dan jika selesai akan segera mengirimkan surat lunas ke saya.
Hingga sekarang, berarti
sudah 2 bulan lebih sejak saya dihubungi oleh pak Ricky. Namun bukti lunas yang saya tunggu-tunggu tak kunjung datang juga. Mudah-mudahan saya sedang tidak ditipu untuk yang kedua kalinya oleh debt collector HSBC.