Showing posts with label Finansial. Show all posts
Showing posts with label Finansial. Show all posts

Wednesday, August 21, 2013

Kiat-Kiat Mengelola Keuangan

Dear All, berikut ini saya ingin berbagi tentang cara mengelola keuangan yg dapat diaplikasikan untuk segala ukuran pemasukan/penghasilan. Kuncinya adalah : 
BAGAIMANA KITA DAPAT HIDUP SEHEMAT MUNGKIN
SIMPLICITY (HEMAT/SEDERHANA) adalah keharusan :)

Langsung saja ya :
a. Sisihkan terlebih dahulu 10% untuk zakat / infaq / sedekah
b. Sisihkan terlebih dahulu 10% untuk ditabung (untuk investasi)
c. Sisihkan terlebih dahulu 10% untuk ditabung (unt jaga2 kebutuhan tak terduga)
d. Gunakan 70% sisanya untuk kebutuhan sehari2 sehemat mungkin
e. Apabila point d masih ada kelebihan, jangan dihabiskan. Masukkan ke dalam tabungan point b
f. Apabila ada kebutuhan mendesak sebisa mungkin hanya gunakan tabungan point c.
g. Gunakan tabungan point b untuk investasi ke usaha2 yg menguntungkan
h. Siapa tahu tabungan point b bisa juga ngumpul dan bisa digunakan unt membeli bisnis.
i. Setelah dana investasi kembali, maka langsung masukkan kembali ke tabungan point b.
i. Sementara semua hasil keuntungan dari hasil investasi tsb, lakukan hal yg sama mulai point a hingga e, diusahakan agar prosentase tabungan point b ditingkatkan

Usahakan untuk hidup semurah mungkin ....

sehingga secara bertahap prosentase tabungan point b dan point c dapat meningkat tidak hanya sekedar 10%

Semoga bermanfaat :) :)

Sunday, March 02, 2008

Uang

Deni sedang kesulitan keuangan, begitu kata teman-temannya. Kok tahu?

Karena setiap kali kekurangan uang, Deni selalu sibuk meminjam uang sana sini. Beberapa temannya ada yang menolak karena setiap bulan dia meminjam uang.

Memang, setelah gajian pasti dibayar, tapi beberapa hari kemudian pinjam lagi. Lama-kelamaan teman-temannya merasa keberatan. Kalau sudah demikian, maka Deni sibuk mencari-cari siapa yang dapat meminjamkan uangnya.

Akhirnya Deni mendapatkan juga uang yang dibutuhkannya dari pinjaman seorang office boy. Sebenarnya Deni malu. Uangnya sudah habis padahal baru tanggal 16. Dia sudah tidak punya uang lagi untuk naik kereta ke kantor dan untuk biaya makan.

Ketika dia sedang berkeluh kesah dan bingung, tiba-tiba office boy menawarkan uangnya. Dia tidak sampai hati melihat Deni kesulitan.

Deni tadinya menolak karena malu. Masak staf meminjam uang dari office boy? Tapi orang tersebut benar-benar rela ingin membantunya, sehingga akhirnya Deni menerima bantuannya.

Dalam hati kecilnya Deni merasa sangat malu. Malu sekali!. Tapi Deni terpaksa menerimanya, dia benar-benar tidak punya uang. Keesokan harinya dia ingin mencari office boy tersebut dan mengajaknya berbincang-bincang. Deni penasaran. Mengapa office boy tersebut bisa punya uang lebih dan bahkan bisa meminjamkan uangnya kepada Deni?

Bukankah gaji Deni lebih besar? Mereka sama-sama masih bujangan, belum menikah. Tapi, mengapa office boy tersebut bisa menyimpan uang sedangkan Deni selalu kehabisan uang? Kok bisa? Apa kuncinya?

Siangnya Deni baru mendapat kesempatan untuk berbincang-bincang dan bertukar pikiran. Office boy itu memang sangat istimewa. Dia paling rajin bekerja. Paling tuntas mengerjakan semua tugasnya. Tidak pernah terlambat masuk kerja. Padahal kalau dilihat penampilannya sepertinya biasa saja. Orangnya sederhana, agak kurus dan sopan, tapi tidak terkesan menjilat.

Sambil makan siang bersama di warung sebelah, Deni mulai menggali kunci sukses menyimpan uang yang dilakukan office boy tersebut. "Bagaimana caranya sih, kok bisa mempunyai uang lebih? Gaji saya selalu habis setelah tengah bulan." Deni membuka percakapan.

Office boy tersebut mulai bercerita. "Saya dulu juga begitu, mas. Gaji saya selalu habis sebelum akhir bulan. Akhirnya saya terpaksa meminjam dari teman. Tapi setelah meminjam, rasanya gaji saya semakin tidak cukup. Karena setiap kali gajian, saya harus mengembalikan uang yang saya pinjam di bulan sebelumnya. Jadi uang gaji saya berkurang. Akibatnya saya semakin kekurangan mas. Gaji utuh saja tidak cukup, apalagi setelah dipotong untuk membayar utang. Ya, semakin berkurang lah mas. Semakin lama, utang saya semakin banyak"

Benar juga, pikir Deni. Pikiran yang sederhana tapi mengandung kebenaran karena seperti itulah yang dialaminya. "Jadi bagaimana caranya melepaskan diri dari lilitan utang?" tanya Deni.

"Waktu itu saya diajari oleh nenek saya. Saya pernah pulang kampung tanpa membawa uang banyak. Waktu itu nenek saya bertanya kemana gaji saya. Saya bilang sudah habis. Langsung saya dipanggil dan diberi wejangan oleh beliau." katanya.

Nenek saya berkata: "Uang itu seperti air. Air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Kalau tidak dibendung, maka air akan mengalir terus. Seperti sungai. Harus dibendung. Setelah dibendung, maka uang akan berhenti mengalir dan akan mulai bertambah banyak."

Hidup prihatin

Waktu itu saya bertanya: "Bagaimana cara membendungnya? " Nenek saya menjawab tegas:"Prihatin. Bulan depan jangan utang lagi."

"Tapi nanti kurang nek."

"Tidak", kata nenek. "Begini caranya. Begitu terima gaji, segera lunasi utangmu. Sisanya harus dicukupkan untuk sebulan. Jangan utang. Kamu jangan makan di luar atau jajan. Kalau perlu makan nasi putih dan garam, kecap atau kerupuk saja. Pasti cukup." Lalu saya diajak menghitung berapa uang yang harus saya sisihkan untuk ongkos, berapa untuk beli beras, garam, kecap dan kerupuk, dan lain-lain.

Nenek benar-benar meminta saya hidup secara prihatin. Saya tidak boleh naik ojek lagi. Dari rumah saya harus berjalan kaki ke jalan raya tempat saya naik angkutan umum. Pulangnya juga tidak naik ojek karena ojek cukup mahal. Uang saya memang pas-pasan untuk hidup ngirit seperti itu. Tapi memang cukup sih."

"Bulan depannya, saya disarankan untuk melanjutkan hidup seperti itu. Bulan depannya, uang gaji saya sudah mulai ada yang bisa saya sisihkan untuk ditabung.

Bulan ketiga saya mulai makan lebih banyak demi menjaga kondisi tubuh saya, bukan lagi dengan garam dan kecap. Tapi dua bulan hidup sederhana telah membuat saya tidak ingin beli apa-apa lagi. Makanan saya cukup sederhana saja. Saya tidak lagi suka jajan. Saya tidak pernah naik ojek lagi. Dari situlah saya mulai bisa menabung mas. Sampai sekarang."

Deni bertanya:"Boleh tahu berapa tabungan kamu? Tapi kalau kamu keberatan menjawab, tidak apa-apa. Tak usah dijawab."

"Tidak apa-apa mas. Tabungan saya hampir enam juta rupiah. Saya ingin menabung untuk biaya pernikahan saya tahun depan Mas."

Deni hanya bisa terharu. Yang penting niat. Kalau mau ngirit, pasti bisa. Mengapa uangnya habis terus? Karena pengeluaran Deni cukup besar. Padahal sebenarnya bisa dikurangi. Tapi Deni cenderung memanjakan dirinya. Dia selalu memilih naik ojek. Makan siang selalu di luar, tidak pernah mau membawa nasi atau makanan dari rumah.

Pengeluarannya jauh melebihi gaji yang diperolehnya.

Rasa haru campur malu membuat Deni bertekad mengubah cara hidupnya. Dia juga ingin membendung uang yang dimilikinya. Dia takkan membiarkan uangnya mengalir terus. Harus segera dibendung.

Mulai kapan? Hari ini! Change! Start today! Start now!

Sumber: Uang oleh Lisa Nuryanti

Tuesday, January 01, 2008

Use Your Unsecured Credit Card With Responsibility

By: "MIKE SELVON"

As anyone can attest, the need for a good credit score rules the world. Credit is used to determine interest rates on loans, whether or not you can have an apartment or house to rent and can even dictate whether or not you get a job.

Regardless of the debates revolving around whether or not this is a fair practice, you still need credit. For those students in need of an unsecured credit card, it can be a way to either help their credit rating or a way to damage it. Someone who is not responsible with their credit can find themselves being turned down, even when it comes to trying to obtain an education loan.

A Stafford loan does not base its requirements upon credit scores, but private college loans do. If the student has bad credit due to irresponsibility with an unsecured card, then they can find themselves being denied.

This denial can make the difference between going to school and getting an education, and not being able to attend and losing all hope of getting that job of your dreams. Many are forced to turn to a credit card for bad credit, which means paying very high interest rates and high membership fees in order to use the card.

Before that poor credit becomes a reality, you have to learn how to use your unsecured credit card responsibly. The first step is to not have numerous credit cards. You don't need a MasterCard, a Visa student card and bank credit cards! Start slowly while building your credit.

Many people start building their credit with department store credit cards that they pay off each month or keep at a very low balance. You always need to make your credit card payments on time too.

Another great tip is to always pay more than the minimum monthly payment. This ensures that the balance is being paid down. Paying just the minimum amount will result in the interest rates accumulating and you will be forced to pay longer on the balance.

You can get an unsecured credit card if you use your credit wisely. It is so easy to get into debt, but it can take years and years to overcome. Be responsible and you will be able to build your credit score.

Should the need arise and you wish to apply for a private college loan, a good rating will make it will be easier to obtain one on your own rather than being forced to find a co-signer. Use your credit card for emergencies and keep track of your spending. It will benefit you now and in the future.

Thursday, October 25, 2007

Kiat Keluar Dari Jeratan Hutang Kartu Kredit

Salah satu hal yang menjadi bagian dari lifestyle masyarakat kota saat ini adalah kartu kredit. Banyak sekali manfaat kartu kredit yang dapat dirasakan oleh penggunanya. Namun dari sekian pengguna kartu kredit, banyak yang terperosok ke dalam jurang hutang yang tiada henti-hentinya. Mereka sering mengeluhkan tentang kekejaman para debt collector yang terus membombardir mereka dengan teror dering telepon yang seakan tiada henti.

Nah, bila kita masuk pada kelompok yang terjerat hutang kartu kredit, maka ada sedikit kiat-kiat yang dapat dilakukan :
  • Pastikan bahwa kartu kredit kita untuk sementara disimpan dahulu di laci meja, sehingga tidak memancing keinginan untuk menggunakannya.
  • Selanjutnya buatlah daftar hutang kartu kredit tersebut dari bank mana saja, dan berapa jumlahnya.
  • Tentukan untuk setiap kartu kredit tersebut, kira-kira berapa yang dapat kita bayar setiap bulannya dari penghasilan kita. Jangan lupa, sesuaikan pula dengan kebutuhan rutin lainnya. Jangan sampai usaha melunasi kartu kredit membuat kita tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok lainnya.
  • Alokasikan pembayaran lebih tinggi pada kartu kredit yang menerapkan bunga lebih tinggi.
  • Lakukan pembayaran begitu kita menerima gaji, jangan ditunda-tunda lagi.
  • Kita dapat menggunakan kembali kartu kredit kita, setelah terlunasi semua, atau setidaknya hutang tersisa tinggal di bawah 1 juta (atau nilainya disesuaikan dengan kemampuan kita mengelola kartu kredit).
  • Setelah terbebas dari hutang kartu kredit, gunakan kartu kredit secara bijak. Lunasi semua tagihan sebelum tagihan tercetak. Kita dapat mengetahui besarnya tagihan melalui call center, atau melalui mesin ATM.
Semoga bermanfaat.

Tuesday, October 23, 2007

About Credit Card

A credit card is a system of payment named after the small plastic card issued to users of the system. A credit card is different from a debit card in that it does not remove money from the user's account after every transaction. In the case of credit cards, the issuer lends money to the consumer (or the user). It is also different from a charge card (though this name is sometimes used by the public to describe credit cards), which requires the balance to be paid in full each month. In contrast, a credit card allows the consumer to 'revolve' their balance, at the cost of having interest charged. Most credit cards are the same shape and size, as specified by the ISO 7810 standard.

How credit cards work
A user is issued credit after an account has been approved by the credit provider, and is given a credit card, with which the user will be able to make purchases from merchants accepting that credit card up to a pre-established credit limit. Often a general bank issues the credit, but sometimes a captive bank created to issue a particular brand of credit card, such as Chase, Wells Fargo or Bank of America issues the credit.

When a purchase is made, the credit card user agrees to pay the card issuer. The cardholder indicates their consent to pay, by signing a receipt with a record of the card details and indicating the amount to be paid or by entering a Personal identification number (PIN). Also, many merchants now accept verbal authorizations via telephone and electronic authorization using the Internet, known as a Card not present (CNP) transaction.

Electronic verification systems allow merchants to verify that the card is valid and the credit card customer has sufficient credit to cover the purchase in a few seconds, allowing the verification to happen at time of purchase. The verification is performed using a credit card payment terminal or Point of Sale (POS) system with a communications link to the merchant's acquiring bank. Data from the card is obtained from a magnetic stripe or chip on the card; the latter system is in the United Kingdom commonly known as Chip and PIN, but is more technically an EMV card.

Other variations of verification systems are used by eCommerce merchants to determine if the user's account is valid and able to accept the charge. These will typically involve the cardholder providing additional information, such as the security code printed on the back of the card, or the address of the cardholder.

Each month, the credit card user is sent a statement indicating the purchases undertaken with the card, any outstanding fees, and the total amount owed. After receiving the statement, the cardholder may dispute any charges that he or she thinks are incorrect (see Fair Credit Billing Act for details of the US regulations). Otherwise, the cardholder must pay a defined minimum proportion of the bill by a due date, or may choose to pay a higher amount up to the entire amount owed. The credit provider charges interest on the amount owed (typically at a much higher rate than most other forms of debt). Some financial institutions can arrange for automatic payments to be deducted from the user's bank accounts.

Credit card issuers usually waive interest charges if the balance is paid in full each month, but typically will charge full interest on the entire outstanding balance from the date of each purchase if the total balance is not paid.

Grace period
A credit card's grace period is the time the customer has to pay the balance before interest is charged to the balance. Grace periods vary, but usually range from 20 to 30 days depending on the type of credit card and the issuing bank. Some policies allow for reinstatement after certain conditions are met. Usually, if a customer is late paying the balance, finance charges will be calculated and the grace period does not apply. Finance charge(s) incurred depends on the grace period and balance, with most credit cards there is no grace period if there's any outstanding balance from the previous billing cycle or statement (ie. interest is applied on both the previous balance and new transactions). However, there are some credit cards that will only apply finance charge on the previous or old balance, excluding new transactions.

Wednesday, October 17, 2007

Mencoba Berkenalan Dengan Kartu Kredit Syariah

Kartu Kredit, sudah menjadi salah satu penghuni penting di dompet kita. Itu artinya kartu kredit sudah semakin menjadi bagian penting dari konsep belanja masa kini. Tentunya dengan berbagai komentar positif dan negatif yang menyertainya.

Dengan sistem bunga yang masih dibebani lagi dengan bunga, menjadikan pemilik kartu kredit banyak yang ancur-ancuran berjuang memepertahankan diri dari gempuran kejamnya sisi negatif kartu kredit. Bahkan ada yang harus ganti nomor telepon, pindah rumah, dan lain sebagainya, hanya karena kurang mampu mengelola penggunaan kartu kredit dengan baik.

Nah, awal ramadhan tahun ini (1428H, red) ada sedikit berita yang agak berbeda dari teman saya, Peter. Ternyata kini ada kartu kredit model baru. Kartu Kredit Syariah. Bank yang menerbitkan adalah Bank Danamon, dengan nama produk DIRHAM CARD.

Akhirnya saya mencoba mencari data contact person kartu kredit ini, melalui mbah Google. Saya temukan salah satu contact person yang berada di kota saya, Surabaya. Segera saya hubungi, dan berlanjut dengan janjian untuk membahas tentang rencana saya mengajukan aplikasi untuk kartu kredit syariah pertama di Indonesia ini.

Setelah bertemu, saya mendapatkan beberapa brosur tentang produk ini. Di brosur produk tersebut terdapat sebuah klaim yang bertuliskan :
DIRHAM CARD dari Danamon Syariah, pengganti kartu kredit pertama yag didasari oleh Prinsip Syariah.
  • Penerapan Ijarah Principle, tidak mengenal sistem bunga melainkan dikelola dengan sistem biaya jasa bulanan yang berdasarkan prinsip keadilan.
  • Goodwill Investment, sebagai prasyarat di mana kita diharuskan menyimpan dana sebesar 10% dari limit pembiayaan yang disetujui, yang hasilnya dapat kita nikmati atau digunakan untuk memastikan kesempurnaan ibadah (zakat, infaq, dan shodaqoh)
Selain itu, DIRHAM CARD ini juga menawarkan keunggulan antara lain :
  1. Bebas Bunga Sesuai Syariah, satu-satunya kartu yang bebas riba, tidak mengenal bunga, apalagi bunga berbunga dan dikelola secara prinsip syariah.
  2. Lebih Murah, konsep biaya timbul dari DIRHAM CARD lebih murah dibandingkan dengan kartu kredit biasa.
  3. Berfungsi Sama Seperti Kartu Kredit, memanfaatkan jaringan MASTER CARD sehingga dapat diterima di berbagai merchant berlogo Master Card di seluruh dunia.
  4. Peduli Dengan Sesama, denda keterlambatan atas pembayaran tidak dibukukan sebagai keuntungan bank, melainkan akan disalurkan untuk kepentingan sosial & kemanusiaan melalui Lembaga Amil Zakat & Lembaga Sosial terkemuka lainnya.
Cukup menarik bukan ? Sayangnya hingga kini saya masih belum mengirimkan kekurangan berkas-berkas yang rencananya saya kirim via fax. Padahal saya sudah mengisi formulir pengajuan aplikasinya.

Jika aplikasi ini disetujui, mungkin nanti saya akan bercerita lebih jauh tentang perbedaan antara kartu kredit konvensional yang pernah saya miliki dengan kartu kredit syariah pertama di Indonesia ini.

Memilih Kartu Kredit, Menghindari Jeratan Utang

PERANG kartu kredit antarbank mulai menemukan momentumnya. Bank-bank dengan agresif menawarkan produk kartu kredit dengan banyak pesona di dalamnya. Ada yang bebas iuran tahunan (annual fee) dan tidak sedikit yang membanjiri hadiah jika Anda semakin sering menggunakan kartu kredit. Juga, cash advance yang tinggi dan kemudahan menaikkan plafon pinjaman serta point reward. Di sisi lain, salah memilih dan mempergunakan kartu kredit akan menjebak pemegang kartu ke sumur utang yang dalam.

NAH, agar Anda pemegang kartu kredit tidak dijerat utang seumur hidup dan dikejar-kejar tukang tagih (debt collector) yang terkadang kasar dan mempermalukan Anda di hadapan teman-teman kantor, berikut tips memilih kartu kredit dan sekaligus menggunakan kartu kredit dengan bijak.

Ada tiga langkah penting yang harus dicermati dalam memilih dan menggunakan kartu kredit.

Memilih penerbit kartu kredit yang kredibel dan kemudahan yang di dapat dari kartu kredit.

DALAM memilih bank penerbit kartu kredit, ada sejumlah hal yang harus Anda perhatikan. Pertama, apakah bank penerbit kartu kredit tersebut cukup kredibel, misalnya apakah bank tersebut sudah lama menerbitkan kartu kredit. Hal ini menyangkut kerapian administrasi transaksi.

Dalam banyak kasus, bank hanya mengejar target pemegang kartu sehingga memberi kemudahan yang berlebihan pada awalnya, tetapi belakangan hari kemudahan itu hilang. Pilihlah bank penerbit kartu kredit yang berpengalaman. Kedua, apakah kartu kredit Anda bisa diterima di banyak tempat (merchant), termasuk jika Anda ke luar negeri. Ketiga, apakah suku bunga yang diberlakukan cukup kompetitif atau lebih rendah.

Faktor suku bunga menjadi penting bila Anda termasuk orang yang tidak disiplin atau sering "lupa" membayar tagihan. Selain itu, bukan berarti bank yang mengenakan suku bunga nol lebih murah dibandingkan bank yang memberi suku bunga, misalnya, tiga persen.

Berhati-hatilah, sebab bank yang menetapkan suku bunga nol tersebut mengharuskan pemegang kartu mengangsur bulanan secara tetap, dan kalau dijumlahkan masih lebih besar bila membayar dengan sistem bunga. Contohnya, Anda membeli komputer seharga Rp 6 juta. Jika tanpa bunga, Anda akan membayar Rp 500.000 setiap bulan selama setahun. Faktanya, Anda membayar cicilan lebih besar dari Rp 500.000 tiap bulannya.

Keempat, apakah iuran tahunan yang dikenakan murah atau mahal. Namun, belum tentu juga bank yang membebaskan iuran tahunan pada tahun pertama akan lebih murah di tahun kedua, dan selanjutnya. Kelima, apakah bank penerbit memberi kemudahan dalam membayar. Misalnya, jika Anda hendak membayar tagihan, apakah Anda harus datang ke bank atau lewat ATM. Ini pun perlu teliti karena setiap Anda membayar lewat ATM pun dikenakan biaya. Tarif pembayaran ini tidak seragam, ada yang Rp 8.000 per pembayaran dan ada yang Rp 10.000 per pembayaran. Keenam, apakah kartu kredit Anda dilengkapi asuransi? Pilihlah kartu yang dilengkapi asuransi dan sekaligus kartu diskon.

Memilih jenis kartu kredit, apakah jenis silver, gold, atau platinum.

LANGKAH kedua adalah memilih jenis kartu, apakah silver, gold, atau platinum. Ketiga jenis kartu itu mengandung konsekuensi tersendiri sehingga dalam memilih jenis kartu Anda harus menyesuaikan dengan kemampuan kantong Anda. Jika kantong Anda hanya berkelas silver dengan plafon pinjaman Rp 6 juta, jangan sekali-kali Anda memegang kartu gold dengan plafon Rp 20 juta, terlebih memegang kartu jenis platinum yang punya plafon pinjaman Rp 50 juta.

Mengapa? Ini menyangkut potensi kerawanan terjerat utang. Kuncinya, jika Anda punya penghasilan Rp 6 juta per bulan, seperti lazimnya rumus utang, Anda jangan lebih mempunyai cicilan utang per bulannya sebesar 30-40 persen atau sekitar Rp 2,5 juta sampai Rp 3 juta dari total penghasilan Anda. Masalah akan muncul jika Anda masih harus mengangsur mobil, rumah, atau utang barang lainnya. Lalu, dari mana cicilan utang kartu kredit Anda? Bisa jadi Anda akan mengorbankan kebutuhan konsumsi atau Anda akan dililit utang seumur hidup Anda.

Cara pandang Anda terhadap kartu kredit itu sendiri.

Selanjutnya, langkah ketiga adalah sikap pandang Anda terhadap kartu kredit itu sendiri. Jangan sekali-kali belanja dengan kartu kredit semata-mata mengejar poin reward atau hadiah. Akan tetapi, belanjalah sesuai kebutuhan dan kemampuan kantong Anda. Kuncinya, jika Anda belanja dengan kartu kredit setiap bulan Rp 3 juta, pada akhir bulan Anda harus membayar Rp 3 juta.

Langkah itu akan membuat Anda tidak perlu membayar bunga. Namun, jika Anda hanya membayar minimum tagihan, sisa utang Anda akan terkena bunga. Apabila pada bulan kedua dan ketiga Anda hanya membayar tagihan minimum, padahal pada bulan tersebut Anda masih menggunakan kartu kredit dengan tambahan utang, Anda termasuk orang- orang yang akan "mabuk utang" karena outstanding utang Anda bertambah dan beban bunga pun makin besar.

Pada dasarnya, kartu kredit itu bukanlah sebagai instrumen kemudahan untuk berutang, melainkan harus diperlakukan sebagai alat untuk memudahkan dan keamanan dalam melakukan transaksi. Sikap dasar itu harus melandasi setiap pemegang kartu kredit jika tidak ingin hidupnya disandera utang dan didatangi oleh debt collector.

Banyak kasus pemegang kartu kredit yang terjebak dalam jeratan utang karena memandang kartu kredit sebagai kemudahan berutang. Padahal, kartu kredit itu sebagai alat pengganti transaksi uang tunai yang aman dan mudah.

Eko B Supriyanto Direktur Biro Riset InfoBank

Monday, October 15, 2007

Tips Aman Menggunakan Kartu Kredit

1. Pada saat pengajuan aplikasi baru
  • Usahakan jangan pernah mengajukan pembuatan kartu kredit melalui agen (Seperti yang banyak di mal mal, restaurant dan supermarket) walaupun mereka pakai fasilitas bank tertentu, tetap saja mereka bukan pegawai bank tetapi pegawai perusahaan agen yang bekerja sama dengan bank tertentu tersebut.
  • Kalau mau buat kartu kredit diusahakan agar datang langsung ke Bank/Lembaga Keuangan penerbit kartu kredit ke divisi card center nya (Kartu Kredit) atau minimal ke cabang bank tersebut.
  • Jangan hanya melihat iuran tahunan yang gratis saja untuk tahun pertama, sehingga tahun berikutnya tutup kartu dan mencari lagi yang gratis iuran tahunan lagi. Disini sangat rawan data anda bocor ke orang lain.Karena kita tidak tahu oknum dari suatu institusi yang nakal.
  • Kredit limit diusahakan adalah maksimal 1/2 dari Take Home Pay kita (Yg ideal pinjaman adalah 1/3 penghasilan kita), bila terlalu tinggi minta turun limit saja, daripada susah bayarnya.

2. Pada saat sudah memiliki Kartu Kredit
  • Usahakan selalu untuk membayar lunas keseluruhan tagihan sebelum jatuh tempo, sehingga anda terhindar dari biaya dan bunga yang cukup tinggi
  • Rate bunga kartu credit selalu diatas bunga pinjaman lainnya karena kartu kredit adalah pinjaman tanpa agunan, biasanya persentase rate adalah perbulan, sehingga anda harus mengalikan dengan 12 untuk mengetahui rate setahunnya.
  • Perhitungan bunga kartu kredit adalah sejak dari kita transaksi atau pengambilan tunai sudah berjalan bunganya, namun kalau kita bayar lunas (Full Payment) sebelum jatuh tempo maka kita dibebaskan bunga.
  • Jangan pernah menginformasikan data yang ada di kartu kredit kita kepada orang lain, termasuk saudara dekat, baik nomer kartu, masa berlaku, nama yang tercetak di kartu, dan lain sebagainya. Waspada terhadap marketing via phone (Tele marketing) yang mengatakan seolah olah dari Bank penerbit kartu dan ada kerjasama dengan mereka baik asuransi, hotel, club, dsbnya ingat itu cuman trik mereka, dan jangan pernah kasih tahu nomer kartu anda ke mereka !!! serta data data lainnya termasuk Bank penerbit kartunya.
  • Diusahakan pada saat menggesek kartu kedit, kasir menggesek di depan kita, biasa terjadi khususnya di restaurant kartu kita dibawa dulu ke kasir baru mereka yang gesek tanpa kehadiran kita, nah hal ini sebisa mungkin di hindari. Selalu gesek di hadapan kita.
  • Jangan pernah memesan barang via internet dengan menyebutkan kartu kredit kita. Hindari cara pembelanjaan model begini terlebih lagi bila transaksi di Warnet dan di perusahaan yang tidak dapat dipercayai (Tidak Bonafid)
  • Periksa selalu kartu kredit anda, bila hilang segera lapor ke Bank Penerbit kartu untuk menghindari penyalahgunaan.
  • Jangan berprilaku konsumtif, merasa punya kartu kredit bisa di cicil dan ingat tagihan tetap harus anda bayar, jangan memberatkan anda sendiri
  • Punya kartu kredit jaman sekarang bukan suatu kemewahan dan prestise, jadi nggak perlu punya kartu kredit berderet, saran saya cukup 1 dari Visa dan 1 lagi dari Master Card dengan dua penerbit yang berbeda, yang memberikan benefit yang paling banyak dan bagus. Misalnya diskon di supermarket sekian persen, diskon makan sekian persen, dsbnya
Semoga beberapa tips ini dapat berguna, dan yang lain dapat menambahkan lagi bila dirasa msih ada yag kurang.

Sumber : Iyus



Thursday, October 04, 2007

Pemegang Credit Card, Berhati-Hatilah

Apakah kita adalah pemegang credit card ?

Jika ya, tentunya kita sudah merasakan keuntungan memanfaatkan barang yang satu ini. Namun bisa jadi, kita justru merasa lebih dirugikan dengan harus membayar, membayar, dan membayar yang tiada henti-hentinya.

Nah, berikut ini adalah beberapa hal yang dapat kita perhatikan tentang credit card :
  1. Usahakan semaksimal mungkin kita tidak terlambat dalam melakukan pembayaran tagihan. Kalau perlu lakukan pembayaran pada H-2, atau lebih awal lebih baik lagi. Catat baik-baik tanggal jatuh tempo. Simpan pada reminder di handphone. Lingkari tanggal tersebut pada kalender. Jika memungkinkan buat countdown dan pasang di dinding kamar kita.
  2. Misalnya pagu yang diberikan adalah 5 juta, maka kita harus memastikan yang kita gunakan adalah tidak lebih dari 4,7 juta. Jangan sekali-kali menggunakan hingga melebihi pagu yang diberikan. Lho mengapa kok hanya boleh 4,7 juta saja ? Yang 300rb digunakan untuk jaga-jaga apabila ada biaya-biaya administrasi yang tidak kita ketahui. Misalnya biaya tahunan, interest, dan lain-lain.
  3. Jika kita ingin mentransfer saldo hutang kita di credit card A ke credit card B, dengan harapan bunga / APR yang lebih rendah, maka lakukan dengan penuh seksama. Jangan sampai biaya transfer tersebut lebih merugikan kita dari pada tetap bertahan pada credit card A. Hati-hati pula dengan penawaran bunga yang lebih rendah di credit card B, padahal ternyata hanya berlaku untuk 6 bulan pertama. Sementara untuk bulan-bulan berikutnya ternyata lebih besar dari pada yang dikenakan oleh credit card A.
  4. Jangan sekali-sekali berpikir untuk melakukan penarikan uang tunai dari credit card kita. Kecuali jika benar-benar sangat terpaksa. Setiap penarikan uang tunai akan dikenakan bunga yang lebih besar dari pada belanja. Selain itu juga ada biaya administrasi penarikan yang memiliki nilai minimum, misalnya 40rb.
Semoga bermanfaat.

Friday, May 18, 2007

Indikasi Penipuan ala Debt Collector HSBC

Bagi pemegang Credit Card, khususnya yang beberapa kali mengalami keterlambatan akut dalam membayar tagihan setiap bulannya, pasti akan merasakan hebohnya para debt collector beraksi. Naudzubillaahi min dzalik. Jangan sampai ada saudara, anak, famili saya yang mau berprofesi seperti itu.

Ini adalah kisah saya dalam menutup credit card HSBC yang sudah 5 tahun saya miliki. Kisah ini dimulai dari ketidakberdayaan saya membayar tagihan credit card HSBC. Pembayaran terakhir adalah Oktober 2005 yang membuat posisi tagihan saat itu menjadi tersisa hampir 2.7jt. Bulan-bulan berikutnya kondisi ekonomi saya sangat mencekam dan menghimpit. Dana proyek banyak yang tertunda dibayarkan, sementara kebutuhan sehari-hari juga semakin besar. Baik kebutuhan operasional proyek maupun kebutuhan rumah tangga. Kredit card yang lain pun juga harus tetap diopeni (selain HSBC, pada saat itu saya masih mempunyai Citibank, Danamon, dan Niaga).

Hingga bulan Januari 2006 saya tidak membayarkan cicilan tagihan pada HSBC. Karena sudah kepalang basah. Sudah terlanjur. Dana yang ada lebih saya prioritaskan untuk mengamankan posisi credit card lainnya serta memenuhi kebutuhan pengeluaran proyek (pekerjaan) dan keluarga. Selama waktu tersebut, telepon demi telepon tagihan berdering tak kenal lelah. Pertengkaran via phone dengan debt collector pun menjadi hiasan setiap saat.

Namun setelah bulan Januari 2006, tekanan dari pihak HSBC mulai surut, bahkan hilang sama sekali. Dalam hati selain merasakan tenang, juga muncul khawatir. Tenang karena tekanan dari HSBC sudah reda. Khawatir karena pasti berkas saya sudah dilimpahkan ke pihak ketiga.

Lama tak ada hubungan lagi dengan HSBC, hingga akhirnya pada awal bulan Juni 2006 mulai lagi telepon dari orang berlogat (maaf) Batak yang menghubungi saya mengaku atas nama HSBC. Dia mengaku bernama Eliper. Perbincangan pun terjadi, yang intinya tentang komitmen saya menyelesaikan tagihan. Yang jelas, tagihan yang pada Oktober 2005 hanya berkisar 2.7jt, sudah membengkak sedemikian rupa menjadi 4.180.000,00. Wow, 1jt lebih bunga berbunga plus denda yang harus saya tanggung. Akhirnya kesepakatan terjadi. Tawaran menyelesaikan tagihan selama 2 bulan, masing-masing 1.5jt per bulan, pun saya terima. Jadi totalnya menjadi 3jt. Diskon yang diberikan adalah sekitar 30%. Harus saya bayarkan pada tanggal 15 Juli dan 15 Agustus.

Saya pun berusaha mempersiapkan 1.5jt khusus untuk tanggal 15 Juli. Namun, pada 10 Juli saya dihubungi oleh orang Batak yang berbeda. Kali ini dia menawarkan diskon yang lebih menggiurkan, asalkan saya mau membayar sekaligus. Nilai yang harus saya bayarkan menjadi hanya 2.5jt saja, namun harus dibayarkan sekaligus. Saya pun tertarik dengan tawaran terbaru ini. Lumayan, 500rb selisihnya. Namun saya sadari pada 15 Juli saya belum punya tambahan 1jt, karena yang sudah saya siapkan hanya 1.5jt saja. Akhirnya saya meminta perpanjangan waktu, dan diberi kesempatan 10 hari lagi. Jadi tanggal 25 Juli saya sudah harus menyelesaikan sejumlah tersebut.

Alhamdulillah, Allah Maha Kaya. Tanpa harus menunggu lama, sekitar tanggal 20 Juli saya sudah memiliki dana yang cukup. Tidak hanya sebesar 2.5jt untuk HSBC, namun credit card lain pun berhasil saya bayar dalam jumlah yang cukup. Walau belum bisa semuanya hingga 0.

Saya pun segera menghubungi Bp. Eliper pada Sabtu 22 Juli melalui nomor yang diberikan. Saya berniat segera membayarkan secepatnya karena pada hari Minggu saya harus ke luar kota hingga Rabu. Namun jawaban pak Eliper adalah, meminta agar uang tersebut di transfer pada rekeningnya. Karena rekening yang diberikan adalah rekening pribadi di BNI, dan atas nama someone, maka saya tidak bersedia. Akhirnya pak Eliper pun berjanji bahwa dia akan segera mengambilnya.

Kenyatannya, hingga Minggu sore pak Eliper tak kunjung datang. Saya pun berencana menitipkan dana tersebut ke istri saya. Namun tidak jadi, karena istri saya takut berhadapan dengan debt collector. Takut keliru, tertipu, dan lain sebagainya. Sorenya saya tetap harus berangkat ke Jember jam 4 sore menggunakan kereta api Cantik jurusan Surabaya - Jember.

Merasa tidak nyaman, pada hari Senin, saya kembali menghubungi Bp. Eliper. Namun solusi yang diberikan tetap saja minta dana itu ditransfer ke Rekening BNI yang telah disebutkan. Saya tidak keberatan, asalkan saya diberi alamat lengkap kantornya, plus nomor teleponnya sekalian. Mendengar permintaan saya, Bp. Eliper malah marah. Menganggap saya ingin mempermainkannya, atau sekedar ingin mencari-cari alasan karena tidak bisa membayarnya. Akhirnya saya putuskan, kalau memang Bp. Eliper percaya pada saya bahwa saya bersungguh-sungguh komitmen menyelesaikannya, maka saya minta diberi waktu 1 hari lagi. Jadi Bp. Eliper bisa datang ke rumah mengambil dana pembayaran tersebut pada tanggal 26 Juli. Dan Bp. Eliper pun sepakat.

Pada 25 Juli, siang hari, tiba-tiba saya dikejutkan dengan telepon istri saya yang menceritakan terjadi kejadian yang memalukan dan menakutkan di rumah. Bp. Eliper datang beserta rekannya untuk menagih pembayaran saya. Karena dengan logat Batak yang sangat kental, ketika itu adik ipar saya pun takut membukakan pintu pagar. Sehingga pembicaraan terjadi dibatasi dengan pagar antara mereka. Bagi saya yang sudah terbiasa bergaul dengan orang Batak, mungkin merasa biasa dengan cara bicara orang Batak. Tidak demikian dengan keluarga istri saya (saat itu saya masih tinggal dengan mertua). Mereka sangat ketakutan, jangan-jangan orang-orang yang datang ini mau membikin onar. Yang jelas mertua saya khususnya, sangat malu. Karena omongan-omongan yang diucapkan oleh Bp. Eliper dan rekannya sempat terdengar oleh warga sekitar.

Mendengar cerita istri saya yang entah benar atau hanya salah paham saja, saya pun segera menghubungi Bp. Eliper. Saya tidak terima karena Bp. Eliper sudah melanggar kesepakatan yang sudah dibuat. Bukankan pada Senin hari sebelumnya, sudah ada kesepakatan Bp. Eliper mau datang pada hari Rabu. Bukan hari Selasa seperti yang dilakukannya. Mendengar omelan-omelan saya, Bp. Eliper hanya mengucapkan kata maaf, tanpa ada perasaan bersalah sama sekali.

Tanggal 26 Juli, sore hari, Bp. Eliper kembali datang. Tetap beserta rekannya yang saya ketahui bernama Bp. Toni. Bp. Toni inilah yang menerima pembayaran dan memberi tanda terima pada saya. Pada tanda terima tersebut tertulis nama Toni dan tandatangannya. Selanjutnya mereka menjanjikan akan segera mengirimkan bukti lunas secepatnya.

Hingga 2 minggu, saya belum juga mendapatkan bukti lunas yang dijanjikan. Saya pun segera menghubungi Bp. Eliper. Dia hanya bisa melakukan cross check ke petugas yang bertugas masalah administrasi.

Saya tunggu lagi hingga 3 bulan. Pada akhir Oktober 2006 saya kembali bertanya tentang bukti lunas yang dijanjikan pada Bp. Eliper. Hal ini karena saya sedang ada masalah kecil dengan credit card yang lain, yaitu Danamon. Bp. Eliper pun hanya bisa janji ini itu tanpa ada tindak lanjut yang jelas.

Waktu berlalu, hingga Maret 2007. Tiba-tiba saya dikejutkan oleh telepon seseorang bernama Ricky dari Jakarta yang mengaku dari HSBC. Menyampaikan bahwa saya masih memiliki tanggungan hutang sebesar hampir 4.5jt. Waduh, bencana apa lagi ini. Tentu saja saya menyangkalnya dan menyatakan sudah menyelesaikan tagihan HSBC sejak Juli 2006. Pak Ricky pun minta diberi penjelasan,dan saya pun dengan seksama menceritakan kronologinya. Akhirnya pak Ricky hanya meminta dikirimkan bukti pembayaran yang sudah saya lakukan dahulu.

Untung saja semua bukti-bukti pembayaran hingga catatan-catatan yang diberikan oleh Bp. Eliper masih saya simpan dengan baik. Padahal nomor handphone yang diberikan, sudah tidak bisa dihubungi lagi. Bahkan nomor telepon kantor yang diberikan juga tidak bisa dihubungi. Ketika saya menelepon nomor telepon yang diberikan oleh 108 berdasarkan alamat kantor yang diberikan pada saya, ternyata yang menerima adalah orang yang sama sekali tidak paham dengan maksud saya. Waduh, JANGAN-JANGAN SAYA DITIPU ...

Saya pun segera mencoba mengirim semua bukti tersebut via fax ke pak Ricky, sambil berharap pak Ricky bisa membantu saya untuk menyelidiki kejadian yang sebenarnya. Namun karena terlalu lama, bukti pembayaran lembar berwarna kuning yang diberikan pada saya sudah mulai luntur catatannya. Pada kiriman pertama, tulisan itu sama sekali tidak tertangkap mesin fax. Sehingga yang terkirim seakan-akan blanko pembayaran HSBC dengan tulisan yang hampir tidak nampak. Itu seperti yang dilaporkan pak Ricky. Saya pun kebingungan, bagaimana ini. Bagaimana cara saya agar bisa mengirimkan buktinya. Pak Ricky memberi solusi supaya bukti itu dikirim saja via pos. Dikirim ? Nggak mungkinlah. Kalau dikirim, lantas bukti apa lagi yang saya miliki.

Akhirnya timbul ide untuk saya fotocopy dulu sebelum saya kirimkan via fax. Alhamdulillah hasil mesin fotocopy lumayan terlihat. Semua tulisan terbaca dengan baik. Dari fotocopy itu, saya kirimkan via fax. Dan bisa diterima dengan baik oleh pak Ricky. Pak Ricky pun akan berusaha menyelesaikan permasalahan ini, dan jika selesai akan segera mengirimkan surat lunas ke saya.

Hingga sekarang, berarti sudah 2 bulan lebih sejak saya dihubungi oleh pak Ricky. Namun bukti lunas yang saya tunggu-tunggu tak kunjung datang juga. Mudah-mudahan saya sedang tidak ditipu untuk yang kedua kalinya oleh debt collector HSBC.

Thursday, May 10, 2007

Lika Liku Putus Hubungan Dengan CC Danamon

Semangat membara untuk mengakhiri hubungan dengan credit card, kadang kala harus melalui perjalanan panjang nan melelahkan.

Untuk kasus Credit Card (CC) Danamon, bermula dari pemblokiran secara tiba-tiba hingga teller yang salah memasukkan data pembayaran mewarnai proses penutupan CC Danamon ini.

Selain urusan CC, sebenarnya saya juga seringkali merana dengan produk Danamon lainnya. Saya harus merelakan 29.800,00 melayang tiap bulan untuk administrasi dan denda karena saldo saya di bawah 1jt. Padahal sebelumnya saya merasa bangga dengan Danamon ini. Bank inilah yang pertama-tama (menurut yang saya tahu) yang memfungsikan satpamnya sebagai penerima tamu. Dengan senyumnya yang manis, satpam-satpam itu rela untuk membukakan pintu pada setiap nasabah yang datang.

Namun, sejak awal 2006, saya mulai kecewa.
"Pak, karena saldo Bapak di bawah 1jt, maka dikenakan denda sebesar 20rb, pak."

Asem, BCA aja gak kayak gitu aturannya. Kalo malak nasabah, jangan begini dong caranya.

Kembali ke CC Danamon. Sekitar September 2006, saya tidak membayar tagihan CC. Sehingga pada akhir bulan tersebut tiba-tiba CC Danamon diblokir. Saya anggap wajar, karena saya memang tahu bahwa pembayaran bulan ini mengalami keterlambatan. Pada awal Oktober 2006 saya melakukan pembayaran. Beranggapan bahwa kartu sudah dapat digunakan, maka saya sempat menggunakannya ketika berbelanja. Namun CC tersebut tetap tidak dapat digunakan. Masih diblokir.

Merasa aneh, akhirnya saya menghubungi petugas Danamon melalui call centernya. Saya mendapatkan jawaban bahwa status saya adalah blokir dari BI karena ada CC saya yang bermasalah. Jawaban yang tidak bisa saya terima, karena kenyataannya 2 CC saya lainnya baik-baik saja, dan tetap dapat digunakan untuk bertransaksi. Petugas pun tidak dapat menjelaskan lebih jauh.

Kecewa diperlakukan demikian, akhirnya saya memutuskan untuk tidak membayar sisa tagihan hingga permasalahan blokir tidak jelas ini selesai. Bagaimana pun ini adalah keputusan yang salah. Alih-alih masalah blokir selesai, justru malah setan-setan penagih yang bergentayangan menteror. Denda ini itu tetap harus saya terima. Bunga berbunga pun tetap bekerja. Ternyata saya hanya mampu bergeming selama 3 bulan saja. Akhirnya pada Januari 2007 saya mengalah, dan kembali melakukan pembayaran sekaligus rencana untuk menutup CC secepatnya.

Karena kebutuhan yang sangat banyak menjelang kelahiran putri pertama saya, rencana menutup CC tertunda. Sudah puluhan telepon dari Danamon yang harus saya terima untuk penawaran ini itu tentang rencana penutupan. Makin lama gelombang telepon dari Danamon semakin santer saja. Baik petugas yang dari Danamon Jakarta, hingga petugas dari Danamon Surabaya sendiri. Seakan-akan saya ini menjadi umpan yang diperebutkan oleh mereka. Semua menawarkan diri untuk menghandle saya. Saya sempat heran, Bank sebesar Danamon kok sepertinya tidak punya data perlakuan terhadap nasabah. Sehingga masing-masing petugas merasa dia yang bertanggung jawab menghandle saya.

Seperti yang kita tahu, bahwa bagi Nasabah CC yang menutup CC-nya, akan mendapatkan discount. Demikian pula dengan saya. Berbagai itung-itungan ditawarkan petugas Danamon. Dari sekian metode itung-itungan, saya memilih salah satu petugas yang saya percaya untuk menghandle proses penutupan CC saya. Petugas ini untuk selanjutnya saya sebut Mbak D. Sementara itu, petugas lain tetap menawarkan ini itu, saya tetep keukeuh dengan Mbak D.

Akhirnya, Mei 2007. Kesempatan menutup CC datang juga. Berbekal hitung-hitungan yang telah diberikan oleh Mbak D, saya pun melunasi tagihan di Bank Danamon BEJ Sudirman - Jakarta pada Jumat, 4 Mei 2007, jam 8:45 WIB. Diiringi dengan perasaan lega, saya meninggalkan teller tanpa memeriksa bukti pembayaran saya. Bukti tersebut segera saya lipat dan saya masukkan pada dompet. Mbak D segera saya hubungi, dan sorenya saya sempatkan untuk mengirimkan copy slip pembayaran, KTP, plus CC saya via fax. Mbak D pun memberi info bahwa tanggungan saya untuk CC Danamon sudah lunas. Surat pelunasan pun segera diproses untuk selanjutnya akan dikirim via pos ke alamat penagihan saya.

Senin, 7 Mei 2007, sekitar jam 8 pagi saya dihubungi kembali oleh petugas Danamon Surabaya menanyakan tentang tagihan saya. Tentu saja saya heran, bukannya saya sudah menyelesaikan urusan tanggungan saya, kok masih di telepon juga. Langsung saja saya jelaskan bahwa saya sudah lunas, bla bla bla ...

Siangnya, kembali saya dihubungi oleh petugas yang berbeda. Tetap menanyakan tentang tagihan saya. Emosi juga nih, emangnya sistem informasi di Danamon sedang error atau bagaimana seh, kok sampai antar petugas saja saling tidak tahu menahu. Langsung deh Mbak D saya hubungi dan saya jelaskan tentang perlakuan yang saya alami. Dan Mbak D hanya bisa memastikan bahwa saya sudah lunas. Jika ada yang menghubungi bilang saja sudah lunas.

Selasa, 8 Mei 2007, sekitar jam 8 pagi kembali saya menerima telepon dari Danamon. Tetap untuk menanyakan tentang tagihan saya. Merasa ada yang janggal, saya segera melihat ke bukti pembayaran yang tersimpan di dompet. Olala ... ternyata teller salah memasukkan data. Seharusnya 4 digit terakhir kartu CC saya adalah 4003, namun dimasukkan ke kartu dengan 4 digit terakhirnya 4000.

Siangnya, terpaksa saya harus meluangkan waktu untuk mendatangi Danamon Card Center di PangSud Surabaya. Dengan dibantu petugas di lantai 3, saya membuat surat pernyataan tentang kekeliruan yang terjadi. Mbak D pun tidak lupa saya hubungi.

Beberapa saat kemudian Mbak D menghubungi kembali, dan memberi tahu bahwa kesalahan tersebut segera akan dikoreksi. Dan meyakinkan saya bahwa proses penyelesaian surat bukti pelunasan tetap berlanjut.

Ternyata, Rabu, 9 Mei 2007, sekitar jam 2 siang, kembali petugas Danamon menghubungi saya. Sambil menyumpah-nyumpah dalam hati terhadap Bank segoblok ini, saya berusaha menjelaskan kronologis kejadian kepada petugas tersebut, sambil menyarankan agar sebelum menghubungi nasabah, lebih baik pastikan dulu data-data terkini yang ada di Bank tersebut. Termasuk surat pernyataan yang saya buat di lantai 3 DCC di PangSud. Banyaknya petugas serta banyaknya nasabah yang harus ditangani kembali dijadikan dalih oleh petugas tersebut.

Hingga saat ini, saya tidak tahu, apakah siang nanti masih ada lagi petugas Danamon yang menghubungi saya. Kalau masih ada, dan isinya menanyakan tentang pembayaran tagihan, pasti akan langsung saya pisuhi.

Ternyata benar saja, tetap ada petugas Danamon yang menelepon sekitar jam 11 siang. Tapi kali ini lain. Bukan untuk menanyakan tentang tagihan, melainkan mengkonfirmasi, bahwa setoran terakhir saya yang salah masuk itu sudah dikoreksi. Alhamdulillah, brarti misi putus hubungan dengan CC Danamon sudah sukses.

Repotnya Credit Card

Semua tentu sudah tahu bahwa jika tidak pintar-pintar memanfaatkan Credit Card, pasti akan terjerumus pada hutang dan bunga berkepanjangan. Demikian juga saya, pertama mengenal credit card sejak 2001, membuat saya harus menyisihkan sebagian penghasilan saya untuk membayar bunga dan administrasi bulanan yang tidak sedikit.

Dari 5 credit card yang saya miliki setidaknya saya harus mengeluarkan 50 - 100rb per kartu per bulan. Edhuuuuannnnn. Lha kok banyak banget ? Tentu saja, karena saya memang tidak / belum mampu untuk membayar lunas hutang-hutang tersebut yang ternyata dahulunya (pada saat pertama di acc) lebih banyak untuk belanja konsumtif.

Namun euforia credit card harus segera diberangus. Karena saya tidak berhasil bertindak bijak untuk menggunakan credit card, maka satu-satunya cara adalah dengan putus hubungan dengan credit card.

Berturut-turut 5 credit card yang saya miliki berdasarkan persetujuannya adalah CitiBank, HSBC, ANZ, Danamon, dan Niaga. Awal mula memang sungguh nikmat. Walau tidak punya uang, tapi tetap bisa foya-foya dengan nilai uang sebesar pagu yang dipercayakan pada kita. Yang kenyataannya seakan-akan itu adalah uang kita. Sementara saya bukanlah pegawai yang mendapatkan penghasilan bulanan. Jadi mau tidak mau baru bisa membayar ketika ada dana proyek yang cair. Itu pun tidak bisa membayar lunas. Kadang cuma 80%nya, malahan ada yang cuma sebatas pembayaran minimal saja.

Akhirnya, sejak akhir 2004, ditengah himpitan pengeluaran yang sering kali lebih besar dari pemasukan, saya mulai menabuh genderang perang terhadap credit card.

Yang pertama saya habisi adalah ANZ. Alasan mendasar adalah karena petugas debt collectornya (atau lebih senang saya sebut dengan setan tanpa perasaan) sudah mulai mengganggu ketenangan orang tua saya. Setan-setan itu sering kali menteror orang tua saya, menjatuhkan martabat saya, menyampaikan berita yang kurang benar, tujuannya satu agar orang tua saya merasa terganggu dan segera mendorong saya untuk menyelesaikan tagihan-tagihan saya. Dan alhamdulillah, awal 2005 ANZ berhasil saya habisi.

Yang kedua adalah HSBC. Pertengahan 2006 saya berhasil putus hubungan dengannya. Itupun ada cerita berbau penipuan yang harus saya alami untuk menyelesaikannya. Sebenarnya saya senang dengan HSBC ini. Tentu saja karena sangat cocok dengan program-programnya yang berhubungan dengan restoran. Saya benar-benar merasa termanjakan dengan All You Can Eat ala HSBC. Mungkin jika saya sudah merasa mampu menjadi manusia yang bijak memanfaatkan Credit Card, mungkin saya ingin untuk membuka aplikasi Credit Card HSBC lagi.

Nah, pada awal 2007, saya juga berhasil putus hubungan dengan CC Danamon, setelah melalui perjalanan panjang nan melelahkan.

Kini yang tersisa hanya CitiBank dan Niaga. Untuk sementara kedua CC itu masih selamat nasibnya dari PHK (putus hubungan kartu). Karena ternyata saya merasa sudah mulai bijak untuk menggunakannya.

Sekedar tips :
  • Pastikan menggunakan CC jika kita tahu betul bahwa sebelum tagihan CC dicetak, kita sudah mampu melunasinya hingga tidak ada tanggungan sama sekali.
  • Pastikan menggunakan CC hanya sebagai penunda pengeluaran. Maksudnya sebenarnya kita punya uang, namun kita memilih menggunakan CC supaya pengeluaran kita tertunda. Dan penggunaan CC harus diiringi pembekuan uang kita sejumlah yang kita gunakan pada CC. Misalnya kita menggunakan CC sebesar 100rb, maka uang 100rb di tabungan kita sudah tidak boleh diutak-atik lagi karena sudah dialokasikan untuk melunasi tagihan CC.
  • Pastikan tidak menggunakan CC pada tenant-tenant yang memberikan charge tambahan. Biasanya pada barang-barang elektronika, penjual mengenakan charge hingga 3%.
  • Sebaiknya CC tidak disimpan secara permanen pada dompet kita. Melainkan cukup diletakkan di laci meja.
  • Gunakan CC setelah cocok dengan harga barang yang kita beli. Jika ada yang lebih murah dengan tunai, sebaiknya kita beli ditempat tersebut.