Tuesday, November 14, 2006

Inikah Rasanya Ngidam ?

Tentu saja bukan saya yang bisa merasakannya, walau beberapa kalangan juga menyebutkan bahwa suami juga bisa ngidam.

Ngidam, pasti semua sudah mengerti apa itu artinya. Setiap wanita yang hamil, setidaknya akan mengalami apa yang dinamakan ngidam. Tanpa terkecuali istriku, yang sekarang kandungannya sedang memasuki usia 5 bulan. (semoga Allah mengaruniakan anak yang sholeh-sholihah ... Amiin)

Kembali ke masalah Ngidam. Sudah sejak awal usia kandungan istri saya, banyak sekali permintaan istri untuk dibelikan makanan ini, makanan itu, makanan ini, makanan itu. Dan, karena permintaan-permintaan itu dapat saya penuhi, maka dengan senang hati langsung saja dalam waktu yang tidak terlalu lama, permintaan tersebut sudah tersedia di hadapan istri. Memang ada juga sih yang tidak mampu saya penuhi, namun istri juga tidak terlalu memaksa. Dalam hati, saya hanya berkata, ini mungkin yang namanya ngidam.

Kejadian sangat berbeda terjadi pada Sabtu malam, 11 Nopember 2006. Mungkin ini yang benar-benar disebut ngidam. Sejak sore istri tidak mau makan. Namun, sekitar jam 10 malam, tiba-tiba istri merasa lapar, dan minta mi rebus. Mi rebus yang banyak kuahnya. Langsung saja saya pamitan untuk segera keluar mencari mi rebus. Untuk mencarinya, bukanlah suatu pekerjaan yang susah. Mi rebus, banyak dijual orang di rombong-rombong. Orang sering juga menyebutnya mi tok tok.

Saya pesan satu bungkus mi rebus basah (berkuah). Dan penjual mi pun membuatkannya. Setelah selesai, bungkusan segera diserahkan kepada saya. Dengan membawa bungkusan tersebut, saya pulang ke rumah.

Sesampai di rumah, ternyata istri sangat kecewa karena mi rebus pesanannya tidak sesuai dengan keinginannya. Biasanya istri saya tidak pernah seperti ini. Walau saya salah membelikan yang dipesannya, dia senantiasa menerimanya dengan lapang dada. Hal ini tentu saja membuat saya sangat kecewa, dan sempat memarahi istri karena tidak mensyukuri nikmat makanan yang sudah ada di hadapan mata. Akhirnya istri saya justru malah menangis, dan hal ini membuat saya menjadi serba salah. Antara kasihan dan rasa dongkol karena mi rebus yang saya belikan tidak dihargai sama sekali. Lelah bekerja seharian, membuat saya tertidur di kamar sebelah. Sementara istri kelihatannya masih menangis di kamar tidur.

Setelah sholat Subuh, saya berinisiatif untuk menawari istri makan seadanya. Baik roti, susu, hingga nasi saya tawarkan. Namun istri menolak semuanya. Setelah beranjak siang, saya sempatkan untuk membeli es krim kegemarannya, plus beberapa bungkus mi instan. Ternyata es krim tersebut pun mendapat perlakuan sejenis. Istri tetap menolak. Hati sedikit lega ketika istri bersedia untuk dimasakkan mi instan. Dalam sekejap, mi instan sudah tersaji. Istri tidak langsung melahap mi tersebut, karena memang masih panas. Mi saya letakkan di meja, dan saya tinggal ke halaman belakang untuk melanjutkan pekerjaan membuat meja dapur yang sudah lama tertunda-tunda.

Satu jam berlalu, saya kembali ke kamar untuk sesuatu urusan sambil melihat keadaan istri. Alangkah kagetnya ternyata mi yang saya buat masih ada. Dan istri masih tidur bermalas-malasan di tempat tidur. Saya kembali menawari mi tersebut, namun istri menolak. Istri justru mengomentari mi tersebut tidak enak. Sedih dan bingung. Biasanya istri senang sekali dengan mi dengan merk dan rasa yang saya masak tadi. Namun mengapa sekarang bilang tidak enak. Sambil terbayang sejak malam istri belum makan, sementara sekarang sudah mendekati waktu sholat Dhuhur.

Saya mencoba bertanya kembali, mi rebus yang seperti apa yang diinginkannya. Mi rebus yang ada hiasan telur rebusnya. Itulah jawaban istri. Saya pun menawarkan untuk membuatkan kembali, sekaligus telur rebusnya. Istri langsung menolak.

Sambil diliputi kebingungan, saya kembali keluar berkeliling untuk mencari penjual mi rebus. Biasanya penjual mi rebus sangat sulit ditemukan siang hari. Terbukti saya harus berkeliling hampir setengah jam untuk menemukannya. Ternyata tempatnya tidak jauh dari rumah. Menjadi lama, karena rute pencarian tidak memilih penjual mi tersebut untuk dilewati pertama kali.

Dengan spesifikasi persis seperti yang diminta istri, pesanan dibuatkan oleh sang penjual. Setelah selesai, pesanan diserahkan kepada saya. Selanjutnya, dalam waktu singkat, saya sudah berada di rumah untuk menunjukkan hasil pencarian ke istri.

Sesampai di rumah, istri ternyata sudah mandi. Bahkan sudah mulai beraktivitas di dapur. Wajahnya pun tidak tampak lesu. Apalagi ketika mi rebus yang saya bawa saya tunjukkan. Langsung mi rebus tersebut saya tuangkan ke mangkuk dan saya sodorkan ke istri. Istri menerima walau dengan kurang begitu antusias. Dimakannya sedikit. Kemudian sisanya yang masih sangat banyak diserahkan saya untuk menghabiskannya. Heran dan bingung kembali menyelimuti pikiran saya. Apakah masih belum juga cocok, demikian pikiran saya.

Melihat tampang bingung saya, istri langsung berkata, "Sudah mas, sudah cukup kok."

Ealah .. ternyata cuman begitu saja. Inikah yang disebut ngidam ? Ada-ada saja.

No comments: